Jakarta, warnaberita.com - Tak diragukan lagi, Air Susu Ibu (ASI) sungguh makanan kaya nutrisi yang sangat diperlukan bayi di enam bulan pertama sejak lahir ke dunia.
ASI merupakan makanan terbaik dengan gizi lengkap, mulai dari air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, zat antibodi, dan enzim.
Oleh karena itu, para ibu sebaiknya dapat menjaga kualitas nutrisi ASI dengan memerhatikan cara memberikan ASI yang sesuai rekomendasi.
Baca Juga: Itel Vista Tab 30 Pro, Performa Mantap, Harga Terjangkau di Bawah Rp 3 Juta
Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kementerian Kesehatan RI, dr. Lovely Daisy, MKM dalam siaran pers yang dibagikan Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI beberapa waktu lalu menjelaskan, perubahan bentuk makanan akan berpengaruh terhadap kandungan nilai gizi.
Hal ini juga perlu diperhatikan para ibu menyusui dalam pemberian ASI.
Menurutnya, ada beberapa bentuk olahan ASI yang mempunyai risiko tertentu lantaran dapat mengubah kandungan nutrisi.
Baca Juga: 5 Ruas Tol di Sumatera Digratiskan saat Periode Arus Mudik
“ASI dalam bentuk olahan lain, pertama, ASI dibekukan. ASI yang dibekukan di freezer mempunyai risiko menurunnya kandungan protein, zat gizi dan zat aktif lainnya yang tergantung pada tempat dan lama penyimpanan.
Berikutnya, ASI yang dikeringkan melalui proses pembekuan dan pengeringan, di mana serangkaian perubahan fisik tersebut akan meningkatkan risiko perubahan komponen utama ASI, seperti pecahnya membran gumpalan lemak dan perubahan misel kasein dan penurunan komposisi faktor bioaktif protein," papar Daisy.
Agar kualitas ASI tetap terjaga, dia pun menekankan sebaiknya ibu menyusui bayi secara langsung.
“Ibu diharapkan menyusui bayi secara langsung karena dapat membangun ikatan batin antara ibu dan bayi. Selain itu, menyusui memberikan manfaat besar bagi ibu dan bayi, antara lain meningkatkan daya tahan tubuh bayi, melindungi pencernaan bayi, dan meningkatkan kecerdasan.
Kemudian, menurunkan risiko penyakit degeneratif pada bayi. Pada ibu, menyusui dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan payudara, sehingga menyusui bukan sekadar memberikan ASI pada bayi," jelasnya.
Baca Juga: Arya Gangga Jadi Ketum Yowana Tegeh Kori
Manfaat ASI juga mencegah penyakit tidak menular saat dewasa serta meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup ibu.
Lebih lanjut dijelaskan, menyusui merupakan salah satu rekomendasi global pemberian makan bayi dan anak, yang mana ASI merupakan makanan utama dan terbaik bagi bayi usia 0-6 bulan, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) mulai usia 6 bulan serta pemberian ASI yang dilanjutkan sampai usia 2 tahun.
“Proses menyusui dimulai dari Inisiasi Menyusu Dini, yaitu proses kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi segera setelah bayi lahir selama minimal satu jam. Proses ini memudahkan ibu untuk mulai menyusui dan menyusui eksklusif lebih lama,” kata Daisy.
Baca Juga: Indonesia Kirim Bantuan Senilai 1,2 Juta Dolar ke Myanmar
Jika bayi tidak mendapatkan ASI, maka berisiko terserang penyakit-penyakit infeksi, misalnya diare, infeksi saluran pernapasan atas, dan infeksi lainnya.
"Bayi juga dapat mengalami masalah gizi dan berisiko mengalami alergi dan intoleransi laktosa. Bayi berisiko lebih tinggi mengalami penyakit kronis seperti obesitas dan diabetes saat dewasa. Sementara itu, bagi ibu yang terhambat menyusui secara langsung, salah satunya ibu pekerja, pemberian ASI dapat dilakukan dengan ASI Perah (ASIP). ASI perah adalah ASI yang diperas, kemudian disimpan dan diberikan kepada bayi sesuai dengan kebutuhannya," terangnya.
ASI perah yang direkomendasikan diberikan kepada bayi, lanjut Daisy, adalah ASI segar yang diperah pada hari itu atau pada hari sebelumnya, karena kandungan zat gizi masih optimal.
Baca Juga: Courtyard by Marriott Ekspansi ke Jharkhand India
Merujuk buku saku “Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) untuk Kader” terbitan Kemenkes RI tahun 2021, ASI yang baru diperah dan disimpan dalam cooler bag, lama penyimpanan 24 jam.
ASI perah dalam ruangan (ASIP segar) tahan 4 jam dengan suhu 27 derajat sampai 32 derajat Celsius, sedangkan pada suhu kurang dari 25 derajat Celsius tahan 6-8 jam.
ASI perah tahan 2-3 hari ketika ditaruh pada kulkas bagian lemari pendingin dengan suhu kurang dari 4 derajat Celsius.
ASIP yang ditaruh di freezer pada kulkas satu pintu, lama penyimpanan 2 minggu dengan suhu di bawah titik beku, -15 derajat sampai 0 derajat Celsius.
ASI perah yang disimpan di freezer pada kulkas dua pintu dapat bertahan 3-6 bulan dengan suhu -20 derajat sampai -18 derajat Celsius.
Daisy juga menegaskan, bayi baru lahir tidak boleh diberi makanan lain selain ASI eksklusif sampai berumur 6 bulan.
Ketentuan di atas juga sesuai dengan rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Makanan terbaik bagi bayi baru lahir adalah ASI. WHO merekomendasikan, sampai bayi berusia 6 bulan, tidak diberikan makanan atau minuman lain, kecuali obat dan vitamin atau bayi dengan indikasi medis,” pungkas Daisy. (*)