Denpasar, warnaberita.com – Gubernur Bali Wayan Koster menerima kunjungan kerja Badan Anggaran (Banggar) DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua Banggar DPR RI Syarief Abdullah Alkadrie di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (2/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Koster mendorong peningkatan dukungan pemerintah pusat melalui Transfer ke Daerah (TKD) dan APBN untuk mempercepat pembangunan infrastruktur strategis di Bali. Dukungan ini dinilai krusial mengingat posisi Bali sebagai destinasi pariwisata internasional sekaligus salah satu kontributor terbesar devisa negara.
Gubernur menyampaikan apresiasi atas kunjungan Banggar DPR RI yang menjadi momentum untuk menjelaskan secara langsung karakteristik, kebutuhan, dan tantangan pembangunan Bali.
Ia menjelaskan, pembangunan Bali memiliki karakteristik khusus karena merupakan satu kesatuan wilayah yang mengintegrasikan alam, manusia, dan kebudayaan.
Pembangunan dilaksanakan dengan prinsip “1 Pulau, 1 Pola, dan 1 Tata Kelola”, sejalan dengan semangat Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
“Karena itu, kebutuhan pembangunan Bali tidak dapat dihitung hanya berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah, tetapi juga harus mempertimbangkan beban Bali sebagai destinasi pariwisata internasional,” tegas Koster.
Sepanjang 2025, Bali menerima sekitar 16,3 juta kunjungan wisatawan, terdiri dari 7,05 juta wisatawan mancanegara dan 9,28 juta wisatawan domestik.
Pada 2024, devisa pariwisata Bali tercatat sekitar Rp176 triliun atau sekitar 55 persen dari total devisa pariwisata Indonesia sebesar Rp319,9 triliun.
“Kontribusi yang besar ini tentu harus diikuti dengan dukungan pembangunan yang memadai. Bali membutuhkan infrastruktur yang mampu menjaga kualitas pariwisata sekaligus memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat,” ujar Gubernur Koster.
Menurut Gubernur, pertumbuhan pariwisata harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas jalan dan transportasi publik, ketersediaan air bersih, pengelolaan sampah, energi, pelabuhan, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Bali saat ini masih menghadapi tantangan serius seperti kemacetan, keterbatasan transportasi publik dan air bersih, persoalan sampah, serta kesenjangan pembangunan antara kawasan Bali Selatan/Sarbagita dan wilayah lainnya.
Karena itu, Koster berharap alokasi transfer ke daerah untuk Bali ditingkatkan, khususnya untuk infrastruktur yang berdimensi nasional.
“Kami menyampaikan harapan agar alokasi transfer ke daerah untuk Bali dapat ditingkatkan, khususnya untuk mendukung pembangunan infrastruktur strategis. Kebutuhan pembangunan infrastruktur Bali memiliki dimensi nasional, bukan hanya kepentingan daerah,” tegasnya.
Gubernur menegaskan orientasi pembangunan Bali bukan semata mengejar kuantitas wisatawan.
“Kita tidak hanya ingin mengejar jumlah wisatawan, tetapi ingin membangun pariwisata yang berkualitas, berdaya saing, bermartabat, dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Wakil Ketua Banggar DPR RI Syarief Abdullah Alkadrie menjelaskan bahwa kunjungan kerja ini bertujuan menghimpun masukan, saran, dan rekomendasi terkait kebijakan penerimaan serta pengalokasian Transfer ke Daerah dalam APBN.
Ia menampik anggapan adanya penurunan alokasi transfer dari pusat ke daerah.
Menurutnya, sebagian anggaran kini dialokasikan melalui program strategis nasional yang manfaatnya langsung dirasakan daerah, termasuk dukungan pembiayaan PPPK paruh waktu dan pembangunan infrastruktur melalui mekanisme Instruksi Presiden (Inpres).
“Sebenarnya bukan penurunan. Banyak anggaran transfer yang sekarang digunakan untuk program-program nasional yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Contohnya, kewenangan daerah seperti PPPK paruh waktu sebagian besar ditanggung oleh pusat secara bertahap,” jelasnya.
Banggar DPR RI turut mengapresiasi paparan Gubernur Bali mengenai karakteristik, potensi, dan tantangan pembangunan Bali. Bali dinilai memiliki posisi strategis bagi perekonomian nasional, khususnya melalui sektor pariwisata.
Upaya Pemprov Bali mempertahankan pariwisata yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan juga mendapat dukungan karena keberlanjutan pariwisata sangat bergantung pada kualitas lingkungan, infrastruktur, pelayanan, serta kelestarian budaya Bali. (*)
