Badung, warnaberita.com – Tragedi Bom Bali bukan sekadar catatan kelam dalam sejarah, tetapi juga pengingat bahwa perdamaian dan toleransi harus terus dijaga. Pesan kemanusiaan itu kembali digaungkan Pemerintah Kabupaten Badung melalui doa bersama lintas agama di Monumen Ground Zero, Jalan Legian, Kuta, Senin (12/10/2026), untuk memperingati 24 tahun tragedi Bom Bali I (2002) sekaligus mengenang peristiwa Bom Bali II (2005).
Kegiatan berlangsung khidmat dengan kehadiran perwakilan konsulat jenderal negara sahabat, anggota DPD RI, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para penyintas, serta keluarga korban.
Mewakili Bupati Badung, Asisten Bidang Administrasi Umum Kabupaten Badung, I Wayan Wijana, menegaskan bahwa peringatan tersebut menjadi momentum untuk menghormati para korban sekaligus merawat kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, masyarakat harus menjadikan pengalaman pahit masa lalu sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih damai.
Sebagai bentuk penghormatan sekaligus sarana edukasi bagi generasi mendatang, Pemkab Badung juga mempercepat pembangunan fasilitas sejarah melalui Museum Perdamaian Bali.
“Sebagai bentuk penghormatan dan wadah edukasi, Pemkab Badung sedang membangun Museum Perdamaian Bali. Mudah-mudahan tahun ini bisa diselesaikan,” ujarnya.
Wijana menjelaskan, nilai-nilai kearifan lokal Bali, seperti Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi, perlu terus diterapkan untuk memperkuat toleransi serta mencegah berkembangnya paham radikalisme. Ia juga mengajak desa adat, pecalang, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) memperkuat sinergi dalam menjaga keamanan dan kenyamanan kawasan pariwisata.
Ia menegaskan, perdamaian membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun kebangsaan.
“Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan. Dari Badung, kita ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa Bali aman, damai, dan terbuka untuk semua orang,” tambah Wayan Wijana.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Badung sekaligus Ketua Panitia, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, mengatakan doa bersama tersebut tidak hanya memberikan dukungan moral kepada keluarga korban, tetapi juga memperkuat nilai kemanusiaan di tengah keberagaman masyarakat.
“Tragedi masa lalu menjadi pengingat bahwa persatuan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kepedulian antarsesama adalah modal utama mewujudkan Bali yang aman dan beradab,” tutup Mas Arimbawa.
Melalui peringatan ini, Pemkab Badung mengajak masyarakat menjadikan tragedi Bom Bali sebagai pelajaran penting untuk menolak kekerasan, menjaga persatuan, dan memperkuat toleransi. Dari Ground Zero, pesan perdamaian kembali disampaikan kepada dunia bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk hidup berdampingan secara damai.(*)
