Tabanan, warnaberita.com – Tradisi bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat kebersamaan. Hal itu terlihat dalam persiapan Upacara Atiwa-tiwa/Ngaben Bersama di Desa Adat Mojan, Desa Mekarsari, Kecamatan Baturiti, Tabanan.
Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., hadir dalam Uleman Ngupasaksi, Jumat (25/9/2026). Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Tabanan tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pelaksanaan yadnya sekaligus upaya menjaga tradisi dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat turut hadir, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Sekda dan pimpinan perangkat daerah terkait, Perbekel, Bendesa Adat, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta jajaran pemerintahan dan krama Desa Adat Mojan.
Pelaksanaan Ngaben Bersama di Desa Adat Mojan menunjukkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Kegiatan tersebut melibatkan 224 kepala keluarga (KK) dengan urusan bersama sebesar Rp25.000 per orang.
Dalam rangkaian upacara tersebut, sebanyak 21 Sawa turut diupacarai. Selain itu, terdapat 9 Ngelangkir dan 40 orang yang mengikuti prosesi metatah. Puncak karya dijadwalkan berlangsung pada Senin, 28 September 2026.
Tradisi Ngaben Massal di Desa Adat Mojan dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Pola pelaksanaan secara bersama ini menjadi salah satu cara krama menjalankan kewajiban yadnya sekaligus berbagi beban dalam pelaksanaan upacara.
Bupati Sanjaya mengapresiasi Bendesa Adat, tokoh adat, dan seluruh krama yang tetap menjalankan dresta dan tradisi berdasarkan awig-awig serta pararem yang berlaku di desa adat.
Menurutnya, pelaksanaan Ngaben bersama secara berkala tidak hanya membantu meringankan beban masyarakat. Kegiatan tersebut juga memperkuat rasa kebersamaan dan semangat gotong royong antarkrama.
“Tiang apresiasi terhadap semeton sareng sami. Titiang ring Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan hadir ngupasaksi yadnya sekadi niki, karena yadnya niki sangat penting pisan,” ujar Bupati Sanjaya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga kearifan lokal dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Dengan begitu, tradisi keagamaan dan budaya tidak berhenti pada satu generasi, tetapi tetap hidup dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Bagi Pemerintah Kabupaten Tabanan, keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan yadnya bersama menjadi gambaran nyata bahwa tradisi dan gotong royong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat.(*)
