Tuesday, October 13, 2026
HomeBALIBadungPeringatan 24 Tahun Bom Bali, Badung Gaungkan Pesan Perdamaian dan Toleransi

Peringatan 24 Tahun Bom Bali, Badung Gaungkan Pesan Perdamaian dan Toleransi

Badung, warnaberita.com – Dua dekade lebih setelah tragedi Bom Bali, luka masa lalu masih menyimpan cerita tentang kehilangan, ketakutan, dan perjuangan untuk bangkit. Namun, dari peristiwa kelam itu, pesan kemanusiaan terus tumbuh: kekerasan tidak boleh mengalahkan perdamaian, dan perbedaan bukan alasan untuk saling membenci.

Peringatan tragedi Bom Bali ke-24 pada Senin, 12 Oktober 2026 menjadi momentum untuk mengenang para korban sekaligus memperkuat komitmen menjaga toleransi, persatuan, dan keharmonisan di Bali. Doa bersama dipanjatkan bagi seluruh korban tanpa membedakan agama, suku, maupun kebangsaan.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Badung, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, menegaskan pentingnya memperkuat komitmen kebangsaan dengan menjadikan terorisme, radikalisme, dan intoleransi sebagai musuh bersama.

Baca Juga  138 Kader Posyandu Badung Terima Bantuan Langsung dari Provinsi

“Menjaga keamanan dan persatuan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Seluruh elemen masyarakat perlu mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan saling menghormati,” ungkap Mas Arimbawa pada Senin (12/10/2026).

Nilai-nilai kearifan lokal Bali juga menjadi landasan penting dalam merawat kerukunan. Filosofi Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Sementara itu, Tat Twam Asi mengingatkan setiap orang untuk menghormati sesama sebagai bagian dari kehidupan yang saling terhubung.

Melalui nilai-nilai tersebut, perbedaan diharapkan tidak menjadi pemicu perpecahan, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang harmonis dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Di balik peringatan tersebut, kisah para penyintas menjadi pengingat bahwa dampak terorisme tidak berhenti ketika ledakan berakhir. Trauma dan pergulatan batin dapat bertahan selama bertahun-tahun, bahkan ketika kehidupan perlahan kembali berjalan.

Baca Juga  Di Balik APBD Jumbo, Badung Lakukan Langkah Tak Biasa Ini

Thiolina Marpaung, salah satu korban yang selamat dari tragedi Bom Bali, membagikan perjalanan emosionalnya dalam menghadapi pengalaman traumatis tersebut.

Ia mengisahkan bagaimana dirinya sempat diliputi kemarahan dan mempertanyakan alasan dirinya harus menjadi korban. Seiring berjalannya waktu, introspeksi diri dan doa membantunya menjalani proses penerimaan terhadap pengalaman pahit yang dialami.

Kisah Thiolina menunjukkan bahwa pemulihan bukanlah proses yang instan. Di tengah luka yang ditinggalkan tragedi, waktu, refleksi diri, dan kekuatan spiritual dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk berdamai dengan masa lalu.

Sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat sejarah, Pemerintah Kabupaten Badung membangun Museum Perdamaian Bali. Museum ini ditujukan untuk mengenang tragedi Bom Bali pada 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005.

Baca Juga  Buka Pandawa Festival XIV, Bupati Adi Arnawa Soroti Tren Penurunan Pariwisata Bali

Pembangunan museum tersebut ditargetkan rampung pada 2026. Kehadirannya diharapkan menjadi simbol komitmen untuk merawat perdamaian, memperkuat toleransi, serta mengingatkan generasi mendatang tentang dampak buruk kekerasan dan terorisme.

Peringatan Bom Bali ke-24 bukan sekadar mengenang tragedi masa lalu. Momentum ini juga mengajak masyarakat untuk menjaga persaudaraan, menolak kebencian, dan merawat keberagaman. Sebab, perdamaian tidak cukup hanya dikenang melalui upacara dan doa. Perdamaian harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular