Jakarta, warnaberita.com - Pendidikan yang berkualitas tidak dapat dipisahkan dari kondisi kesehatan peserta didik.
Status gizi yang baik berperan besar dalam mendukung perkembangan kognitif, meningkatkan daya konsentrasi, serta memperbaiki prestasi akademik anak-anak di sekolah.
Karena itu Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Gizi
Nasional menandatangani MoU atau nota kesepahaman untuk memperkuat kerja sama dalam meningkatkan pemenuhan gizi peserta didik di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Indonesia Kirim Bantuan Senilai 1,2 Juta Dolar ke Myanmar
Acara yang berlangsung di Gedung A, Lantai 3 Kemendikdasmen ini menandai langkah strategis pemerintah dalam menciptakan generasi bangsa yang lebih sehat, cerdas, dan siap bersaing menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, tantangan yang dihadapi saat ini masih cukup besar, di mana berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2024, angka prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Indonesia masih berada di angka 8,53 persen.
Ini menunjukkan bahwa masih banyak anak yang belum mendapatkan asupan gizi yang memadai, baik dari segi jumlah maupun kualitas.
Baca Juga: Courtyard by Marriott Ekspansi ke Jharkhand India
Selain itu, tantangan gizi anak di Indonesia juga semakin kompleks, dengan tingginya angka kekurangan zat gizi mikro yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas akibat pola makan yang tidak sehat.
Menanggapi kondisi ini, pemerintah telah meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya nasional dalam memastikan anak-anak mendapatkan akses makanan sehat dan bergizi.
Program ini merupakan inisiatif Badan Gizi Nasional sebagai sektor utama, dengan Kemendikdasmen berperan sebagai sistem pendukung dalam implementasinya di lingkungan sekolah.
Baca Juga: TelkomGroup Implementasikan LlaMa ke Chatbot Pelanggan
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, menyampaikan apresiasi terhadap Badan Gizi Nasional atas percepatan program pemenuhan gizi bagi peserta didik.
“Alhamdulillah, kita bersyukur program-program Badan Gizi Nasional berjalan lebih cepat dan melampaui ekspektasi sebelumnya. Kami berterima kasih karena penerima manfaat terbesar dari program ini adalah mereka yang belajar di Kemendikdasmen, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA. Dengan program Makan Bergizi Gratis, Insya Allah kita memiliki generasi yang lebih sehat, kuat, dan berkarakter,” ucapnya, di Jakarta, pada Kamis (27/3/2025).
Lebih lanjut, Mu’ti mengatakan bahwa program MBG tidak hanya bertujuan meningkatkan gizi peserta didik, tetapi juga menjadi sarana membangun pendidikan karakter, seperti kebiasaan berdoa sebelum makan, menjaga kebersihan, serta menanamkan nilai-nilai tanggung jawab dan kemandirian.
Baca Juga: Jaga Kualitas ASI, Ini yang Wajib Diketahui Ibu Menyusui
Dikatakan pula, Kemendikdasmen mendukung sepenuhnya program Makan Bergizi Gratis sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang sehat dan kuat, serta berkarakter dan berakhlak mulia.
“Program ini juga menjadi sarana untuk memperkuat pendidikan karakter dan menanamkan nilai-nilai utama, seperti kebersamaan, tanggung jawab, serta kesantunan. Selain itu, kami telah mengoptimalkan peran UKS sebagai ujung tombak implementasi program ini di sekolah, melakukan digitalisasi sarana-prasarana pendukung gizi, serta memperkuat data melalui dashboard program MBG guna memastikan kebijakan berbasis bukti,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hendiyana, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi nasional dalam menurunkan angka kekurangan gizi pada anak usia sekolah.
Baca Juga: Berkat Rumah Bersubsidi, Radia Nurjanah Bisa Miliki Rumah Setelah 21 Tahun jadi Guru
“Program ini merupakan bentuk investasi besar dari pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Generasi Emas 2045. Saat ini, pertumbuhan penduduk Indonesia masih tinggi, bertambah sekitar enam orang per menit atau tiga juta per tahun. Jika mencakup seluruh anak usia sekolah, jumlah yang seharusnya mendapatkan manfaat ini adalah 70 juta anak,” kata Dadan.
Dia menekankan pentingnya akses keluarga miskin terhadap makanan bergizi seimbang.
“Oleh karena itu, kami berusaha memastikan bahwa setiap anak, terutama dari kelompok rentan, mendapatkan asupan gizi yang baik. Gizi seimbang mencakup protein, karbohidrat, serat, buah, dan susu. Jika intervensi ini tidak dilakukan sejak dini, kita berisiko memiliki tenaga kerja produktif yang kurang berkualitas pada tahun 2045,” ucapnya.
Dalam laporannya, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa nota kesepahaman ini mencakup berbagai aspek kerja sama, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, koordinasi dan edukasi, pemanfaatan sarana dan prasarana, serta pertukaran data dan informasi.
Dengan adanya sinergi ini, intervensi gizi diharapkan lebih tepat sasaran, tidak hanya mengatasi kekurangan gizi tetapi juga membentuk karakter dan mendukung gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. (*)