Saturday, January 17, 2026
HomeBALIBulelengAnak Buleleng Raih Juara di Jantra Tradisi Bali V

Anak Buleleng Raih Juara di Jantra Tradisi Bali V

Buleleng, warnaberita.com – Perwakilan anak-anak dari Kabupaten Buleleng kembali mengukir prestasi dalam ajang Pacentokan (Lomba) Olahraga Tradisional Jantra Tradisi Bali V yang berlangsung selama dua hari, Jumat (4/7) hingga Sabtu (5/7) di Lapangan Timur UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali.

Dalam kompetisi yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025 ini, Buleleng berhasil meraih Juara 3 pada dua cabang lomba yakni Tajog Putra dan Deduplak Putra. Para atlet cilik berasal dari SMP Negeri 6 Singaraja yang mewakili daerahnya dengan semangat dan kekompakan tinggi.

Ketua pelatih kontingen Buleleng, Kadek Yustika, menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian anak-anak asuhnya. Menurutnya, prestasi ini merupakan hasil dari latihan rutin dan kerja keras yang telah dimulai sejak bulan Februari.

Baca Juga  Bulfest 2025 Bertema Topeng Leluhur

“Ini bukan hanya soal menang, tapi tentang bagaimana anak-anak kita belajar menjaga, memahami, dan mencintai tradisi. Proses panjang ini bukti semangat anak-anak Buleleng menjaga tradisi leluhur lewat olahraga,” ujar Yustika di sela kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa latihan dilakukan setiap hari dengan fokus pada ketahanan fisik dan kekompakan tim. Beberapa sesi bahkan digelar di area pantai agar peserta lebih lincah dan terbiasa bergerak di medan yang berbeda.

Pacentokan tahun ini menampilkan berbagai cabang olahraga tradisional seperti Tajog Putra, Terompah Putri, Deduplak Putra, dan Hadang Putri. Setiap cabang menyajikan dinamika permainan yang mengandung nilai kebersamaan dan ketangkasan.

Baca Juga  Maha Senapati Drona Tampil Memukau di Festival Bali Jani VII

Pacentokan merupakan bagian dari program Jantra Tradisi Bali, agenda tahunan yang bertujuan untuk melestarikan permainan rakyat dan pengetahuan lokal. Lewat ajang ini, warisan budaya Bali diperkenalkan kembali kepada generasi muda melalui cara yang menyenangkan.

“Kami berharap pemerintah daerah maupun sekolah-sekolah dapat lebih aktif memasukkan olahraga tradisional ini dalam kegiatan ekstrakurikuler, agar regenerasi bisa terus berjalan,” tambah Yustika.

Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini menjadi wadah edukasi budaya yang menyenangkan dan membanggakan. Anak-anak Bali diberi ruang untuk tumbuh bersama identitas lokal mereka, mengenal akar budaya sambil mengasah potensi.(*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru