Tuesday, March 17, 2026
HomeBERITA TERKINIJurnalisme Berkualitas Tak Bisa Digantikan Mesin

Jurnalisme Berkualitas Tak Bisa Digantikan Mesin

Jakarta, Warnaberita.com – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa jurnalisme berkualitas tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin.

Menurutnya, di tengah pesatnya penggunaan artificial intelligence (AI) di newsroom, kemampuan berpikir kritis, etika, dan empati manusia menjadi benteng terakhir menjaga kualitas informasi publik.

“Good journalism itu diramu oleh tiga elemen penting, yaitu critical thinking, skill, dan ethics. Kalau critical thinking ini tergerus oleh penggunaan AI, itu bahaya serius untuk jurnalisme berkualitas,” ujar Nezar dilansir dari laman Komdigi, Jumat (10/10).

Nezar menyoroti hasil riset Thomson Reuters Foundation bertajuk Journalism in the AI Era yang menunjukkan 80 persen media di negara berkembang sudah menggunakan fitur AI dalam pekerjaan sehari-hari.

Baca Juga  2025, Kunjungan Wisman dan Wisnus Tunjukkan Pertumbuhan Kuat

Namun hanya 13 persen yang memiliki panduan resmi penggunaan AI.

“Artinya, mayoritas newsroom di dunia belum punya kebijakan yang jelas. Kurangnya transparansi dalam membedakan konten yang dihasilkan manusia dengan mesin bisa menggerus kepercayaan publik terhadap pers,” jelasnya.

Ia mengapresiasi langkah Dewan Pers yang pada awal 2025 telah mengeluarkan panduan penggunaan AI di media.

Panduan tersebut mengatur penggunaan AI secara transparan, etis, dan bertanggung jawab, termasuk mekanisme penyelesaian sengketa atas konten berbasis AI.

Nezar juga menyampaikan bahwa Kementerian Komdigi tengah memfinalisasi dua dokumen penting, yaitu Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional dan kebijakan keamanan serta keselamatan penggunaan AI yang akan ditetapkan melalui Peraturan Presiden.

Baca Juga  IGDX Business and Conference 2025

“AI harus diperlakukan sebagai mitra, bukan pengganti manusia. Kita harus AI-aware. Sadar bahwa kita menggunakan AI, tapi tetap mampu mengambil jarak. Jangan sampai kita diatur oleh AI,” tegasnya.

Nezar menutup sambutannya dengan mengingatkan esensi profesi jurnalistik yang tidak bisa digantikan teknologi.

“Mesin tidak punya nurani, empati, dan pengalaman hidup. Kualitas manusia lah yang memungkinkan kita memahami konteks yang kompleks, merasakan dampak sebuah cerita, dan menjaga loyalitas mutlak kepada publik,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru