Badung, warnaberita.com – Momentum peringatan hari jadi organisasi Baladika Bali ke-22 tahun menjadi panggung pernyataan sikap politik bagi Aliansi Angunggah Bali Shanti. Dalam orasi yang disampaikan di hadapan ribuan simpatisan, pimpinan aliansi secara eksplisit menargetkan posisi kepemimpinan tertinggi di Pulau Dewata, yakni Bali satu atau Gubernur Bali.
Langkah politik ini disebut sebagai target utama masa depan organisasi yang kini menaungi dua kekuatan besar, yakni Baladika Bali dan Laskar Bali.
Ketua Umum DPP Aliansi Angunggah Bali Shanti, AA Ketut Sumawidana menegaskan, bahwa anggota mereka telah siap secara kapasitas untuk mengambil peran lebih besar di pemerintahan.
“Harapan saya jangan berpuas diri. Masih banyak nanti tantangan ke depan ya. Dari target kita adalah bagaimana anggota kita menjadi Bali satu, setuju tidak?,” tegas AA Sumawidana yang langsung disambut sorak kesiapan dari ribuan anggota yang hadir pada Selasa (5/5/26).
Ambisi merebut kursi Bali Satu dinilai bukan sekadar isapan jempol semata. Dalam pidatonya, disebutkan bahwa kader-kader organisasi saat ini sudah banyak menduduki posisi strategis di berbagai tingkatan birokrasi dan legislatif, mulai dari Wakil Gubernur, Wakil Bupati, anggota DPRD, hingga tingkat Lurah.
Pencapaian posisi-posisi tersebut dipandang sebagai fondasi kuat untuk melangkah ke jenjang eksekutif tertinggi di provinsi. Kendati demikian, pimpinan aliansi mengingatkan para anggotanya untuk tidak cepat berpuas diri karena tantangan politik ke depan akan semakin besar dan kompleks.
​”Jadi saya apresiasi sekali lagi di umur yang ke-22 tahun ini, sudah banyak sekali ini rekan-rekan kita di Baladika ini sudah apa namanya, menempati posisi-posisi strategis ya. Dari Wakil Gubernur, Wakil Bupati, DPRD, semuanya. Jadi ada Lurah,” ungkapnya.
Menyadari bahwa dukungan publik adalah kunci menuju kursi Gubernur, aliansi menekankan pentingnya transformasi citra ormas di mata masyarakat. AA Sumawidana mengakui adanya stigma negatif yang selama ini melekat pada organisasi kemasyarakatan (ormas) di media sosial maupun kehidupan sehari-hari. Untuk melawan stigma tersebut, aliansi menginstruksikan seluruh anggota untuk meningkatkan perilaku positif dan aksi nyata di tengah masyarakat; mengedepankan etika, sopan santun, dan sikap merendah dalam setiap interaksi; menghentikan segala bentuk tindakan arogan seperti “petantang-petenteng” atau aksi pemalakan; memperkuat kegiatan sosial seperti donor darah dan program bedah rumah.
“Ada stigma-stigma negatif di media sosial satu-dua yang belum paham dengan ormas, jadi selalu dia negatif. Kita jawab dengan apa namanya, perilaku yang positif di masyarakat. Kita harus berubah. Di mana ada Laskar Bali, di mana ada Baladika, di sana harus ada ketenangan bagi masyarakat,” tegasnya lagi.
Hal ini dianggap sebagai syarat mutlak jika organisasi ingin mendapatkan kepercayaan rakyat Bali untuk memimpin di level provinsi. Kekuatan utama untuk mencapai target Bali Satu tetap bersandar pada komitmen persaudaraan antara Baladika Bali dan Laskar Bali yang telah disumpah secara sakral di Pura Jagatnatha.
“Kita pikul bersama karena kita punya moto Baladika Bali sakit, Laskar Bali sakit. Laskar Bali sakit, Baladika Bali sakit. Kan itu moto kita. Dan kita ingat saudara-saudara sekalian, saya ingatkan saja bahwa kita sudah bersumpah. Kita sudah bersumpah di Jagatnatha,” katanya.(*)
