Thursday, July 9, 2026
HomeBALIBadungFragmentari "Jero Luh" Jadi Magnet Penonton

Kontingen Badung Curi Perhatian di PKB XLVIII

Fragmentari “Jero Luh” Jadi Magnet Penonton

Denpasar, warnaberita.com – Denting gamelan yang menghentak dan dramatika panggung yang memikat kembali mengantarkan Kontingen Kabupaten Badung mencuri perhatian dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Penampilan memukau itu tersaji di Panggung Terbuka Ardha Candra, Denpasar pada Rabu (8/7/2026), sekaligus menjadi magnet bagi para penonton yang memadati arena pertunjukan.

Untuk kesekian kalinya, kontingen Kabupaten Badung tampil dalam rangkaian PKB ke XLVIII dengan menghadirkan karya seni berkualitas. Kali ini, garapan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dari Komunitas Seni Baturenggong, Banjar Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, tampil sebagai Duta Kabupaten Badung dengan konsep pertunjukan yang kuat dan sarat makna lokal.

Baca Juga  Tampil Spektakuler, Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan Pukau Penonton PKB 2026

Komposer Fragmentari Komunitas Seni Baturenggong, I Made Adi Suyoga Adnyana, S.Sn menjelaskan, terdapat tiga materi utama yang ditampilkan dalam pementasan tersebut, yakni Tabuh Lima Lawas, tari kreasi masepuh, serta fragmentari berjudul “Jero Luh” yang menjadi sorotan utama.

“Untuk pragmentari Kami mengangkat lokal yakni, di Desa Mengwi, tepatnya Sunan Jero Luh, yang mana Sunan Jero Luh memiliki Histori terjadi di Puri Abiansemal.Dimana Jero Luh, yang nama awalnya Si Luh Punggul sebagai Parekan yang sangat dipercaya dan sakti.Konon meskipun menjelang akhir hayatnya Si Luh Punggul menyampaikan permohonan terakhir agar tapel ragde diletakan diatas jasadnya.Saat tapel menyentuh tubuhnya roh Jero Luh dipercaya menyatu secara Niskala dengan tapel Ragda, yang hingga saat ini tapel Rangda ini menjadi sesunan di Pura Dalem Mengwi,” terangnya, disela kegiatan pertunjukan di Ardha Candra, Denpasar pada Rabu (8/7/2026).

Baca Juga  Bupati Badung Siapkan Pedestrian Lebar hingga Transportasi Listrik

Kisah sakral yang diangkat dalam fragmentari tersebut berhasil membangun suasana magis sekaligus memperkuat identitas budaya lokal Mengwi di atas panggung. Penonton tampak terpukau dengan alur cerita yang dramatik serta perpaduan gerak tari dan tabuh yang harmonis.

Adnyana mengungkapkan, persiapan untuk pementasan berdurasi sekitar satu setengah jam ini tidak dilakukan secara instan. Seluruh proses kreatif telah dipersiapkan secara matang selama kurang lebih enam bulan.

“Kami melakuan persiapan telah dimulai sejak bulan Januari hingga saat ini, jadi kurang lebih 6 bulan lamanya,” ucapnya.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan Pemerintah Kabupaten Badung sangat berperan dalam kelancaran pertunjukan tersebut. Dukungan tersebut tidak hanya dalam bentuk fasilitas, tetapi juga motivasi bagi para seniman untuk terus berkarya.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Serahkan Penghargaan kepada Paskibraka

Sembari Adnyana berharap, kedepan sangat diharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Badung agar lebih banyak lagi memberi ruang kreatif, khususnya para pembibitan generasi muda, baik Komposer, Koreografer maupun Pemain agar dapat diberi ruang terutama dalammengasah sekillnya dan menjadi potensi lokal jenius yang bagus di Kabupaten Badung kedepannya.

Penampilan ini sekaligus menegaskan komitmen Kabupaten Badung dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya Bali melalui panggung PKB sebagai etalase kreativitas seniman daerah.(*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru