Monday, April 27, 2026
HomeBALITabananBupati Sanjaya Paparkan Strategi Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal di Universitas Indonesia

Bupati Sanjaya Paparkan Strategi Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal di Universitas Indonesia

Tabanan, warnaberita.com – Hadir sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Ketahanan Pangan sebagai Pilar Pengentasan Kemiskinan Berbasis Kearifan Lokal, Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., menegaskan pentingnya penguatan kearifan lokal sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.

Seminar tersebut digelar di Gedung IASTH UI, Kampus Universitas Indonesia Salemba, Jakarta Pusat pada Jumat (21/11/25) sebagai rangkaian Dies Natalis ke-42 Program Studi Kajian Ketahanan Nasional. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Departemen Kajian Stratejik Ketahanan dan Keamanan, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia bekerja sama dengan BP Taskin RI.

Acara ini turut dihadiri oleh Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan RI, civitas akademika Prodi Ketahanan Nasional, serta menghadirkan Bupati Solok, Sumatra Barat, Jon Firman Pandu, dan Ketua Departemen Kajian Stratejik Ketahanan dan Keamanan SPPB Universitas Indonesia, Dr. Palupi Lindiasari Samputra, S.Pi., M.M., sebagai narasumber. Seminar mengangkat isu strategis bertema Ketahanan Pangan sebagai Pilar Pengentasan Kemiskinan Berbasis Kearifan Lokal.

Baca Juga  Dinkes Tabanan Gerak Cepat Tangani Pendaki Korban Gigitan Anjing Positif Rabies di Gunung Batukaru

Melalui sambutannya, Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan RI, Ir. Iwan Sumule, menegaskan bahwa tema seminar nasional ini sangat relevan dengan salah satu pilar percepatan penanganan kemiskinan nasional. Ia menyebutkan bahwa bangsa Indonesia memiliki harta karun berupa inisiatif berbasis kearifan lokal yang terbukti mampu memperkuat ketahanan pangan.

“Sebagai contoh, kita lihat sistem Subak di Bali, jaringan irigasi berbasis Tri Hita Karana. Juga di Kabupaten Solok, praktik tradisional persawahan dan filosofi gotong royong merupakan fondasi kuat untuk ketahanan pangan,” jelasnya.

Dalam paparannya, Bupati Sanjaya menegaskan bahwa Sistem Subak merupakan strategi peningkatan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal di Bali. Ia menjelaskan bahwa Subak telah menjadi bagian dari kehidupan petani Bali selama berabad-abad sebagai sistem irigasi tradisional yang memadukan rekayasa pertanian dengan spiritualitas.

“Subak merupakan organisasi tata kelola air berbasis gotong royong yang hingga kini masih dipegang teguh. Tradisi ini dijaga melalui awig-awig dan hukum adat sehingga ketahanan pangan di Kabupaten Tabanan dapat dipertahankan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Baca Juga  Jamin Pasokan Pangan Stabil, APTERR Perlu Ditingkatkan

Bupati Sanjaya menilai nilai-nilai kearifan lokal ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional. Dengan potensi alam yang subur, bentang alam dari gunung, danau hingga laut, Tabanan disebut telah mencapai kedaulatan pangan dan berperan sebagai lumbung pangan Bali.

“Salah satunya Desa Jatiluwih di Kabupaten Tabanan yang ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia (World Heritage) oleh UNESCO. Inilah warisan kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sanjaya mengaitkan nilai-nilai Subak dengan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan antara Tuhan, alam, dan sesama manusia. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari ajaran leluhur yang masih dipegang masyarakat Bali.
“Ajaran-ajaran kearifan lokal yang diwariskan leluhur berkorelasi dengan ketahanan pangan yang kini menjadi kebijakan nasional,” jelas Sanjaya.

Baca Juga  Gubernur Koster Hadiri Puncak Pujawali Pura Luhur Batulumbung

Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali, Bupati Sanjaya menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk tetap menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas utama. Ia juga mengajak generasi muda untuk kembali mencintai profesi pertanian.

“Tetap berpijak pada sektor pertanian. Pertanian adalah pekerjaan yang sangat mulia, sebuah persembahan kepada alam semesta, sehingga nantinya pariwisata adalah bonus,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut ditegaskan bahwa program kajian ketahanan nasional sejalan dengan arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada keberlanjutan dan percepatan pengentasan kemiskinan. Melalui forum akademis ini diharapkan terbangun kerja sama strategis antara pemerintah daerah dan Universitas Indonesia dalam penelitian dan pengkajian ketahanan pangan, sehingga terwujud masyarakat yang tangguh serta mampu mengakses pangan secara berkelanjutan.(*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru