Saturday, December 6, 2025
HomeBALIBulelengPemuda Buleleng Ekspor Gamelan Rindik Bambu ke Mancanegara

Pemuda Buleleng Ekspor Gamelan Rindik Bambu ke Mancanegara

Buleleng, warnaberita.com – Pemuda asal Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng, Bali, sukses membawa gamelan rindik bambu ke pasar internasional.

Dengan keterampilan tangan dan semangat menjaga budaya lokal, I Gede Edi Budiana, yang akrab disapa Edibud, mengubah bambu menjadi alat musik tradisional khas Bali bernilai seni tinggi dan berkualitas ekspor.

Lahir tahun 1995, Edibud memulai perjalanannya dari kecintaan pada suara gamelan sejak kecil. Ketika merantau ke Gianyar untuk kuliah di bidang komputer, ia mendalami seni tabuh dari para tetua.

Dari situ, kecintaannya pada rindik berkembang. Berbekal bambu bekas penjor, ia merakit rindik pertamanya. Tak disangka, teman kos memintanya menjual alat musik itu seharga Rp300.000. “Itu penjualan rindik buatan saya pertama kali tahun 2016 lalu,” ungkapnya.

Baca Juga  Mejaran-Jaranan Anak Banyuning Pukau Penonton di PKB 2025

Kini, melalui workshop dE Percussion di rumahnya di selatan Kampus FOK Undiksha Jinengdalem, Edibud memproduksi berbagai alat musik bambu lainnya, seperti angklung, tingklik, suling, kulkul, hingga kincir angin bernada. Ia mengandalkan bambu Tabah dari perbukitan Bali Utara dan bambu Hitam dari Jawa yang direndam dua bulan menggunakan larutan insektisida dan EM4 agar awet dan anti-rayap.

“Bersyukur sekali di Buleleng tumbuh bambu Tabah yang sangat bagus digunakan untuk bahan rindik,” jelasnya.

Proses produksi dilakukan secara manual. Untuk menyempurnakan nada, Edibud menggunakan aplikasi tuner digital. “Dahulu tetua membuat rindik dengan rasa dan feeling untuk sounding, sekarang saya padukan dengan sentuhan teknologi melalui aplikasi untuk test sounding tiap bilah bambu… karena pendengaran kita kadang tidak sesensitif aplikasi,” ujarnya saat ditemui di studio, Minggu (13/7).

Baca Juga  Ahok: Kita Bisa Samakan Level Pendidikan

Pemasaran produknya dilakukan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok dengan nama dE Percussion. Dari situ, pesanan datang dari dalam dan luar negeri, termasuk Australia, Jepang, New York, dan Singapura. Bahkan pemesan dari Karangasem, Tabanan, hingga Denpasar turut mengapresiasi karyanya.

Harga rindik bervariasi antara Rp1 juta hingga Rp8 juta tergantung ukuran dan ukiran. Untuk memenuhi permintaan, Edibud melibatkan warga sekitar sebagai pengrajin pelawah dan ukiran.

“Sekarang ini saja banyak pesanan selain kami akan menyetok juga, karena proses pembuatannya agak lama agar produk yang kami buat berkualitas,” katanya.

Edibud berharap semakin banyak generasi muda tertarik pada seni gamelan rindik. “Kalau saya lihat banyak potensi muda-mudi yang senang akan gamelan rindik ini, namun karena faktor ekonomi, cenderung untuk merantau keluar, sehingga seni gamelan rindik ini sementara ditinggalkan, bukan tidak ada peminat ya,” tutupnya.(*)

Baca Juga  Apel HUT ke-16 Ibu Kota Mangupura, Usung Tema “Rumaketing Taksuning Bhuwana”
Iklan
Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru