Suka Duka Pengamplung Emas di Trotoar Jalan Diponegoro Denpasar, Tak Mau Membeli Emas Curian

0

Denpasar, warnaberita.com – Jika melintasi Jalan Raya Diponegoro menuju kawasan Heritage Gajah Mada, Denpasar, Bali, pemandangan tak biasa mudah ditemui. Sejumlah orang tampak duduk berjejer di sepanjang trotoar, seolah menjajakan dagangan.

Namun, mereka bukan pedagang biasa. Mereka adalah penadah atau pengepul perhiasan dan emas batangan dari warga yang ingin menjual barang berharganya.

Pantauan di lapangan menunjukkan, setidaknya lebih dari sepuluh penadah emas terlihat mangkal di sepanjang Jalan Diponegoro. Mayoritas dari mereka adalah ibu-ibu setengah baya, meski beberapa laki-laki juga terlihat menjalani profesi serupa. Aktivitas ini sudah menjadi pemandangan rutin, terutama di jam-jam sibuk.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Paparkan Tiga Dokumen Strategis di Rapat Paripurna DPRD Badung

Tak hanya di Jalan Diponegoro, aktivitas pengepul emas juga terlihat di Jalan Hasanuddin. Mereka duduk tepat di depan deretan toko emas yang berjajar di kawasan tersebut. Lokasi ini dinilai strategis karena menjadi pusat jual beli emas di Kota Denpasar, sehingga memudahkan transaksi dengan masyarakat.

Salah satu penadah emas yang ditemui adalah Komang Kaler, pensiunan asal Klungkung. Ia mengaku setiap hari mangkal di seputaran Denpasar, khususnya di Jalan Diponegoro, untuk mencari perhiasan atau emas batangan dari warga yang ingin menjual.

“Saya sudah menjalani profesi ini delapan bulan lalu. Ini untuk mengisi waktu pensiun saya, meski kadang dapat, kadang tidak,” ungkap Komang Kaler pada Jumat (2/1/26).

Baca Juga  Tak Selalu Karena Rematik, Sakit Lutut Bisa Mengarah ke Sakit Lain

Komang Kaler menerima berbagai jenis perhiasan emas, mulai dari anting, kalung, cincin, hingga gelang. Selain emas, ia juga melayani penjualan perhiasan berlian, dengan proses pengecekan sesuai standar operasional prosedur (SOP) untuk memastikan keaslian dan kualitas barang.

Fenomena penadah emas di trotoar ini mencerminkan dinamika ekonomi perkotaan. Di satu sisi, profesi ini menjadi sumber penghasilan alternatif, terutama bagi pensiunan dan ibu rumah tangga. Di sisi lain, keberadaan mereka juga menandai tingginya perputaran emas di Denpasar, yang masih menjadi pilihan masyarakat untuk kebutuhan mendesak atau investasi jangka pendek.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here