Friday, April 17, 2026
HomeBERITA TERKINIEmpat Tahun, Riset Teknologi Proses Pangan Berhasil Raih 200 Lebih Hak Paten

Empat Tahun, Riset Teknologi Proses Pangan Berhasil Raih 200 Lebih Hak Paten

Yogyakarta, Warnaberita.com – Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Satriyo Krido Wahono mengatakan dalam 4 tahun, PRTPP berhasil meraih lebih dari 200 hak paten.

Ia menjelaskan bahwa PRTPP berfokus pada riset off-farm dari pascapanen hingga keamanan produk pangan, mulai dari diversifikasi produk, pangan fungsional, hingga teknologi pengawetan dan pengemasan.

“Kami mengembangkan riset dari proses pascapanen hingga menjadi produk, termasuk aspek keamanan pangan dan halal. Saat ini terdapat 146 periset aktif yang terbagi dalam 18 kelompok riset,” jelas Satriyo, saat kunjungan kerja dan temu sivitas bersama Kepala BRIN Arif Satria dan Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian dikutip dari laman BRIN, Selasa (6/1).

Baca Juga  Hampir 1 Dekade, 400 Ribu Hektare Lebih Lahan Jadi Hutan Adat

Satriyo menambahkan, dalam empat tahun terakhir PRTPP telah menghasilkan hampir 1000 publikasi internasional, lebih dari 200 paten, serta sejumlah inovasi yang telah dilisensikan ke industri sebagai bagian dari upaya hilirisasi.

Selain itu periset di PRTPP BRIN juga berkontribusi dalam kegiatan pendampingan BRIN seperti FIAR, PPBR, PUMI dan PKPRIM; khususnya dalam kegiatan PUMI (pendampingan UMKM) dan PKPRIM (bimbingan teknis ke masyarakat) periset PRTPP BRIN berkontribusi dalam lebih dari 50% kegiatannya.

Sementara itu, periset PRTPP Ema Damayanti menekankan perlunya penataan infrastruktur laboratorium, khususnya untuk mendukung riset mikrobiologi dan bioteknologi pangan. “Keterbatasan ruang dan pemisahan alat laboratorium memengaruhi efektivitas riset. Kami berharap ada penataan kembali agar riset berjalan lebih optimal,” ujarnya.

Baca Juga  Tabanan Raih Apresiasi BRIDA Optimal 2025 dari BRIN

Periset PRTPP lainnya, Nur Alim Bahmid, menilai penguatan fasilitas analisis dan peralatan riset sangat dibutuhkan untuk mempercepat hilirisasi teknologi kemasan dan pangan masa depan. “Beberapa analisis seharusnya bisa dilakukan langsung di sini agar hasil riset lebih cepat diproses dan siap dikomersialisasikan, sehingga fungsi BRIN tidak hanya sebagai penghasil teknologi namun juga sebagai penghubung teknologi dengan mitra industri” katanya.

Selain itu, periset PRTPP Bakti Berlyanto Sedayu menyoroti tingginya kebutuhan industri terhadap teknologi perpanjangan masa simpan pangan. “Sebagian besar permintaan dari industri adalah teknologi untuk memperpanjang umur simpan produk. Ini peluang besar bagi riset pangan BRIN untuk menghasilkan teknologi siap guna,” ujarnya.

Baca Juga  Ditemukan Mikroplastik pada Air Hujan, Ini Dampaknya bagi Kesehatan

Kepala BRIN, Arif berdialog langsung dengan periset dan pengelola laboratorium untuk melihat kesiapan infrastruktur riset sekaligus menyerap masukan terkait kebutuhan peningkatan fasilitas.

“Fasilitas laboratorium ini adalah fondasi hilirisasi riset pangan BRIN. Kita ingin memastikan inovasi yang lahir dari Gunungkidul benar-benar siap diterapkan dan dimanfaatkan Masyarakat. Saya melihat ada banyak pertanyaan kebutuhan teknologi Indonesia dalam bidang pangan saya temukan dan akan mampu dijawab dengan adanya fasilitas dan periset dari Kawasan gunungkidul ini,” pungkas Arif. (*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru