Badung, warnaberita.com – Persoalan sampah di Bali kembali menjadi sorotan pemerintah pusat. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan pentingnya menjaga kebersihan Pulau Dewata agar tidak merusak citra pariwisata Indonesia di mata dunia.
Hal tersebut disampaikan Menteri Hanif saat mengikuti aksi bersih pantai di kawasan Jimbaran, Kabupaten Badung, Kamis (5/3/26). Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa Bali memiliki posisi strategis sebagai wajah Indonesia di sektor pariwisata internasional.
“Bali adalah etalase Indonesia, dan pantai-pantai ini mencerminkan wajah bangsa kita. Ketika pantai bersih, Indonesia dihormati sebagai negara yang peduli lingkungan. Namun, jika tercemar sampah, reputasi kita juga ikut tercoreng,” tegas Menteri Hanif dalam arahannya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah harus menjadi prioritas bersama, terutama di daerah tujuan wisata dunia seperti Bali. Pemerintah menargetkan tingkat pengelolaan sampah nasional mencapai 63,41 persen pada tahun 2026, sehingga daerah strategis harus bergerak lebih cepat untuk mencapai target tersebut.
Selain itu, Menteri Hanif juga mengungkapkan proyeksi timbulan sampah nasional yang diperkirakan mencapai 146.780 ton per hari pada tahun 2029. Angka tersebut menunjukkan perlunya penguatan sistem pengelolaan sampah dari sumbernya, termasuk melalui peran aktif masyarakat.
“Bali harus mempercepat pemilahan sampah di rumah tangga bisa melalui komposter, tebu modern, memperluas jaringan bank sampah, dan memastikan kawasan wisata, hotel, restoran, serta kafe memiliki sistem pemilahan yang disiplin untuk mencegah sampah membebani TPA dan mencemari lingkungan,” tambah Menteri Hanif.
Dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Bali, Menteri Hanif juga meninjau sejumlah lokasi pengelolaan sampah berbasis sumber. Beberapa di antaranya yakni Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST Tahura 1) di Denpasar, Desa Kesiman Petilan di Denpasar, Desa Bongkasa Pertiwi di Badung, serta Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Pudak Mesari di Darmasaba, Badung.
Di lokasi tersebut, Menteri Hanif melihat secara langsung proses pemilahan sampah yang dilakukan oleh masyarakat, mulai dari tingkat rumah tangga hingga komunitas. Ia menilai sejumlah inisiatif yang berjalan di Bali menunjukkan kemajuan positif, meski tantangan dalam pengelolaan sampah masih perlu percepatan penanganan.
Pemerintah pusat juga terus mendorong dukungan terhadap pemerintah daerah. Salah satunya melalui bantuan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) yang memberikan dukungan berupa wood chipper kepada Pemerintah Kabupaten Badung untuk memperkuat pengelolaan sampah, khususnya di kawasan pariwisata.
“Saya berharap dukungan ini dapat meningkatkan kapasitas daerah dalam menyelesaikan persoalan sampah, sehingga masalah sampah di bali bisa ditangani secara cepat,” tambah Menteri Hanif.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah di Bali. Dengan kerja bersama, Bali diharapkan mampu menjadi contoh pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus menjaga ekosistem pesisir.
Upaya tersebut juga sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mendorong gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), sehingga kebersihan lingkungan dapat terus terjaga dan pariwisata Indonesia tetap berdaya saing di tingkat global.(*)
