Buleleng, warnaberita.com — Riuh tepuk tangan dan sorak sorai mewarnai Lapangan Timur Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB) saat permainan tradisional Mejaran-Jaranan tampil memukau dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, Jumat (4/7).
Permainan khas anak-anak dari Desa Banyuning, Buleleng ini sukses menarik perhatian pengunjung melalui program Multirupa (Demonstrasi), yang menampilkan kekayaan budaya lokal secara langsung dan interaktif.
Ketua tim Mejaran-Jaranan, Nyoman Mulyawan, S.Sn., M.Sn., menyampaikan bahwa permainan ini biasa dimainkan selama lima hari berturut-turut seusai Piodalan Ageng di Pura Gede Pemayun, tepatnya setiap Buda Kliwon Ugu. Menurutnya, permainan ini tak sekadar hiburan semata, tetapi juga menjadi ajang melatih ketangkasan, kerja sama, serta strategi di antara para pemain.
“Permainan ini menguji kecerdasan dan keseimbangan penunggang. Mereka harus bertarung (mejengke) di atas punggung kuda hidup-hidupan. Siapa yang tetap berada di atas saat bertarung, itulah pemenangnya,” ujarnya.
Mejaran-Jaranan dimainkan oleh dua kelompok, masing-masing terdiri dari delapan orang. Satu anak berperan sebagai penunggang kuda, dua sebagai kuda, dua sebagai pelana, dan tiga lainnya bertugas melindungi dari belakang. Seorang wasit turut memastikan jalannya permainan berlangsung adil dan sportif. Kelompok yang kudanya jatuh atau tertindih akan dinyatakan kalah.
Mulyawan menambahkan, permainan ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarat nilai ketangkasan, kerja sama tim, dan kelincahan strategi.
Di akhir penampilannya, tim Mejaran-Jaranan mendapat sambutan meriah dari para penonton. Harapan besar disematkan pada keikutsertaan mereka di PKB tahun ini agar tidak hanya menjadi ajang unjuk budaya, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam pelestarian warisan budaya tak benda yang tumbuh dan hidup dari masyarakat.
Dengan penampilan yang autentik dan semangat kebersamaan yang tinggi, Mejaran-Jaranan berhasil menorehkan kesan mendalam dan membangkitkan kembali semangat bermain permainan tradisional di tengah gempuran budaya digital masa kini.(*)
