Buleleng, warnaberita.com – Desa Les di Kecamatan Tejakula, Buleleng, menjalani asesmen lapangan dalam rangka sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan.
Kegiatan ini berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Les, Senin (1/9/25), dengan tujuan memastikan pariwisata berbasis masyarakat tetap ramah lingkungan, berdaya saing, sekaligus menjunjung prinsip pelestarian.
Tim asesor yang hadir terdiri atas Prof. Dr. Winda Mercedes Mingkid, Prof. Dr. Nurlisa Ginting, dan Reagan Brian. Mereka meninjau berbagai aspek yang menjadi standar penilaian, mulai dari tata kelola destinasi, atraksi wisata, pelestarian lingkungan, kearifan lokal, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Desa Les dikenal memiliki beragam potensi wisata, mulai dari bahari, kerajinan tradisional, hingga budaya Bali Mula yang masih terjaga dengan baik. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Suksma Oktiva Askara, menyebutkan bahwa asesmen akan berlangsung selama dua hari dengan fokus verifikasi data lapangan.
“Sertifikasi ini akan menjadi legasi penting bagi Desa Les untuk menyandang predikat desa wisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan branding pariwisata Buleleng,” ujar Dody.
Ia menambahkan, hasil sertifikasi diharapkan membuka peluang lebih luas, termasuk membawa Desa Les ke ajang Best Tourism Village yang digelar Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).
“Langkah ini menjadi pijakan agar Desa Les bisa bersaing di tingkat global,” tambahnya.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Segare Gunung Desa Les, Nyoman Adiana, menegaskan kesiapan masyarakat dalam mendukung asesmen. Sejak resmi ditetapkan sebagai desa wisata pada 2017, warga terus mengembangkan potensi lokal yang ada.
“Kami memiliki wisata bahari, air terjun, jalur trekking, hingga wisata edukasi pengelolaan sampah dan kebun organik. Produk UMKM seperti garam, gula lontar, minyak kelapa, dan arak juga menjadi bagian dari daya tarik,” jelas Adiana.
Tak hanya itu, Desa Les juga mengusung konsep regenerative tourism, pariwisata yang tak sekadar berkelanjutan, melainkan memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Warga mengelola homestay, menawarkan paket wisata budaya, hingga melakukan promosi melalui situs web dan media sosial. Hal ini membuat Desa Les semakin diminati wisatawan, khususnya dari Eropa.
Dengan asesmen ini, Desa Les diharapkan mampu meraih sertifikasi desa wisata berkelanjutan sekaligus memperkokoh posisinya sebagai destinasi unggulan Bali Utara.(*)
