Badung, warnaberita.com – Sebanyak 21 ogoh-ogoh terbaik berhasil masuk nominasi pada ajang Badung Caka Fest 2026 setelah melewati proses penilaian tahap awal yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung. Penjurian tingkat zona terhadap 597 ogoh-ogoh dari enam kecamatan di Kabupaten Badung tersebut berlangsung selama lima hari, mulai 18 hingga 22 Februari 2026.
Kompetisi ogoh-ogoh yang mengusung tema “Sakti Nugraha Loka” ini menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Badung menjelang Hari Raya Nyepi. Dari hasil seleksi awal tersebut, panitia menetapkan 21 ogoh-ogoh terbaik dari tujuh zona penilaian untuk melaju ke tahap final.
Penilaian lanjutan akan dilaksanakan di Balai Budaya Giri Nata Mandala, kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung pada 6 hingga 8 Maret 2026.
Kepala Bidang Adat Disbud Badung, Ida Bagus Agung Munika, menjelaskan bahwa seluruh ogoh-ogoh yang lolos nominasi wajib mengikuti penilaian lanjutan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Penilaian lanjutan ini merupakan satu kesatuan dari penilaian lomba tingkat zona. Apabila ada peserta yang tidak hadir sesuai jadwal di Puspem Badung, maka yang bersangkutan akan didiskualifikasi dan hanya menerima piagam penghargaan sebagai nominasi terbaik tingkat zona tanpa hadiah uang,” tegas Munika saat Technical Meeting Badung Caka Fest di Ruang Kriya Gosana, Kamis (26/2/26).
Ia menambahkan, sebelum proses penjurian dimulai, seluruh peserta wajib membawa ogoh-ogoh mereka ke areal parkir Balai Budaya pada 3–5 Maret 2026 untuk dipajang di tenda yang telah disediakan panitia.
Dalam tahap final ini, penilaian akan dilakukan oleh tujuh dewan juri profesional yang memiliki kompetensi di bidang seni, adat, agama, tradisi, dan budaya. Seluruh juri berasal dari luar Kabupaten Badung untuk menjaga objektivitas serta transparansi proses penilaian.
Adapun bentuk pertunjukan yang dinilai adalah atraksi ogoh-ogoh dengan format fragmentari. Dalam format ini, pembawa obor juga berperan sebagai penari sekaligus tokoh sesuai tema cerita, serta menggunakan dalang untuk memperkuat alur pementasan.
Jumlah penari obor dibatasi maksimal 20 orang, baik laki-laki, perempuan maupun gabungan. Sementara pembawa papan nama berjumlah satu orang, penabuh baleganjur sebanyak 21 orang, dan jumlah juru tegen disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan.
Munika menegaskan, unsur musik wajib menggunakan baleganjur lengkap dengan atributnya. Penggunaan musik selain baleganjur akan mengurangi nilai penilaian. Selain itu, seluruh penari diwajibkan mengenakan payasan yang menarik dan seragam.
“Penggarap tari, penabuh, serta seluruh pendukung pertunjukan wajib berasal dari seniman Kabupaten Badung. Hal ini untuk menumbuhkan rasa bangga dan kepercayaan diri dalam memajukan Badung melalui seni, adat, budaya, dan tradisi,” ujarnya.
Durasi pertunjukan setiap peserta ditetapkan minimal lima menit dan maksimal sepuluh menit. Pelanggaran terhadap ketentuan waktu akan dikenakan sanksi pengurangan nilai oleh dewan juri.
Bobot penilaian terdiri atas 75 persen penilaian ogoh-ogoh dan 25 persen keutuhan penampilan, termasuk perpaduan tarian obor serta atraksi ogoh-ogoh.
Dari 21 finalis tersebut, dewan juri akan menentukan enam ogoh-ogoh terbaik, yakni Juara I, II, III serta Juara Harapan I, II, dan III. Sementara 15 peserta lainnya akan ditetapkan sebagai nominasi baik.
Pengumuman pemenang dijadwalkan pada 11 Maret 2026 melalui media sosial resmi panitia. Juara I akan menerima hadiah Rp50 juta, Juara II Rp45 juta, dan Juara III Rp40 juta. Sementara Juara Harapan I hingga III masing-masing memperoleh Rp35 juta, Rp30 juta, dan Rp25 juta. Adapun 15 nominasi baik akan mendapatkan Rp10 juta beserta piagam penghargaan.
“Seluruh hadiah dikenakan pajak PPh sesuai ketentuan yang berlaku, dan pemberian hadiah didasarkan pada Berita Acara Penilaian Lomba yang ditandatangani oleh Tim Juri,” pungkas Munika.
Sebagai informasi, pada hari pertama penilaian final (6 Maret) akan tampil peserta nomor urut 1–7, hari kedua (7 Maret) nomor urut 8–14, dan hari ketiga (8 Maret) nomor urut 15–21. Nomor urut peserta diperoleh melalui pengundian saat Technical Meeting.(*)

