Amlapura,warnaberita.com-Ada kabar duka dari Bali Timur. Ayahanda pemucuk Pura Agung Besakih, Jro Gede Anglurah Bendesa, yakni Jro Mangku Pasek berpulang, pada Rabu (29/4). Upacara pengabenan almarhum berlangsung di Setra Desa Adat Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Senin (4/5).
Jro Gede Anglurah Bendesa, putra pertama mendiang menuturkan, sebelum ayahandanya berpulang, sehari sebelumnya sempat ikut acara pesangkepan bertepatan dengan anggara kasih, pada Selasa (28/4) rutin di Pura Dadia Basukian. Bahkan, saat itu, kata Jro Gede, alm ayahnya meminta untuk muput pesangkepan tersebut. “Beliau meminta ingin muput untuk yang terakhir kalinya, mungkin itu pertanda beliau akan berpulang, akan tetapi tidak ada yang ngeh,” ucap Jro Gede, pada Minggu (3/5).
Tak hanya itu, mendiang juga tumben sekali menginap di rumahnya di utara dengan pakaian khusus putih-putih. Kemudian keesokan harinya, sekitar pukul 05.30 Wita ayahnya balik dan langsung berolahraga. Dan sekitar pukul 08.00 Wita, ayahnya sempat bilang kepada ibunya, kalau dirinya akan meninggal. Setelah itu, ayahnya sempat naik sepeda motor jalan-jalan ke rumah ipar-iparnya yang ada di Pringalot, Desa Menanga.
“Saat itu bapak sempat bilang kalau dirinya untuk yang terakhir kalinya dapat lancong ke sana. Padahal, sebelum meninggal ayahnya biasa tidur-tiduran di lantai di kamarnya. Dan sekitar pukul 13.00 Wita ayah ditemukan tak sadarkan diri, dan setelah di cek denyut nadinya sudah tidak ada, dan tubuhnya sudah dingin,” katanya sembari menyatakan, kalau ayahnya sempat meminta istrinya untuk tidak meninggalkannya dirinya pada hari itu. Dilihat sehat, maka ditinggallah membuat banten di dekat rumah. Istrinya juga sempat membeli makanan, namun belum sempat dimakan sudah berpulan. Ayahnya memiliki riwayat sesak nafas.
Jro Gede mengatakan, rangkaian upacara, telah dilaksanakan matur piuning di Pura Prajepati Yangaluh, ngembak lawang, mersihin, ngaskara, munggah tumpamg salu, dan mepamit.
Paginya digelar upacara penanjen penundung, mlaspas wadah, memargi ke setra . Pada 31 Mei dilanjutkan upacara mapiuning, kemudian 1 Juni upacara nganget don bingin, ngulapin, metik, ngajum puspa, mlaspas puspa lingga, 2 Juni, ngeroras lan nganyud, 6 Juni mendak, ngangkid, majar-ajar sekuub Besakih. Dan 7 Juni nagkilang ke Pura Lempuyang, Silanyukti, Gelgel, dan Pura Ulundanu Batur Kintamani. (*)
