Kepulauan Seribu, warnaberita.com – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat aksi pemulihan ekosistem pesisir dan laut melalui peringatan Hari Laut Internasional 2026 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.
Mengusung tema “Aksi Bersama untuk Pantai Lestari”, kegiatan ini menjadi momentum kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga kesehatan laut, mengendalikan pencemaran, serta mempercepat pemulihan ekosistem pesisir dan bawah laut Indonesia.
Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa perlindungan laut tidak dapat dilakukan secara parsial dan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Tema ‘Aksi Bersama untuk Pantai Lestari’ harus menjadi gerakan nyata. Perlindungan laut tidak boleh berhenti di garis pantai, tetapi wajib menyentuh pondasi ekosistem di bawah laut. Melalui kehadiran lebih dari 1.000 peserta hari ini, kita melakukan intervensi konkret dari darat hingga dasar laut”.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau dengan luas laut mencapai 6,4 juta kilometer persegi. Posisi strategis di kawasan Coral Triangle menjadikan Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia dengan kekayaan terumbu karang, mangrove, padang lamun, serta ribuan spesies ikan.
Laut Indonesia berperan penting, tidak hanya sebagai sumber pangan dan penghidupan masyarakat pesisir, tetapi juga sebagai penyerap karbon biru, pengatur iklim global, jalur perdagangan dunia, hingga penopang ekonomi nasional.
Namun, berbagai ancaman serius masih membayangi ekosistem laut, mulai dari sampah plastik, pencemaran pesisir, kerusakan terumbu karang, degradasi mangrove dan lamun, hingga ghost gear atau alat tangkap yang ditinggalkan di laut. Dampaknya, terjadi ghost fishing yang merusak habitat bawah laut dan mencemari rantai makanan melalui mikroplastik.
Menjawab tantangan tersebut, peringatan Hari Laut Internasional 2026 diisi dengan berbagai aksi nyata. Kegiatan meliputi island clean up, diving clean up, dan snorkeling clean up untuk mengangkat sampah serta jaring hantu dari laut. Selain itu, dilakukan penanaman 50 media transplantasi terumbu karang, pelepasan 1.000 bibit ikan kerapu, serta pelepasan penyu sisik dan 100 tukik sebagai simbol pemulihan ekosistem.
Asisten Teritorial Panglima Komando Armada Republik Indonesia, Budi Mulyadi, menilai kolaborasi lintas sektor dalam kegiatan ini menjadi bukti kuat kepedulian terhadap masa depan bumi.
“Ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian terhadap masa depan bumi dan kelestarian laut masih menyala dengan sangat terang. Laut adalah penyedia oksigen, sumber mata pencaharian, serta rumah bagi jutaan spesies makhluk hidup,” ujar Budi Mulyadi.
Ke depan, KLH/BPLH terus memperkuat pengendalian sampah laut melalui kebijakan strategis, pengawasan pencemaran, serta pemulihan ekosistem pesisir. Upaya ini juga didukung sistem pemantauan sampah laut termasuk ghost gear, serta peningkatan partisipasi masyarakat melalui Gerakan Pilah Sampah (GPS) dan pengembangan kader lingkungan dalam Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI).(*)
