Thursday, July 16, 2026
HomeBERITA TERKININasionalSekolah Harus Jadi Ruang yang Aman dan Nyaman Bagi Anak

Sekolah Harus Jadi Ruang yang Aman dan Nyaman Bagi Anak

Malang, warnaberita.com – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kota Malang, Jawa Timur.

Gernas RANA merupakan bentuk kolaborasi yang erat untuk menghadirkan lingkungan belajar yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga benar-benar melindungi hak setiap anak untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno menegaskan keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kondisi kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual anak. Dampak kekerasan terhadap anak sangat besar karena dapat mengganggu perkembangan psikologis, kemampuan belajar, hingga masa depan anak.

“Tidak ada gunanya kita mendidik anak menjadi pintar apabila mereka tidak tumbuh sehat, baik secara fisik, mental, sosial, maupun spiritual. Dampak kekerasan terhadap anak sangat besar karena dapat memengaruhi kesehatan mental, proses belajar, hingga masa depan mereka. Oleh karena itu, menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi anak merupakan investasi penting untuk menyiapkan generasi Indonesia yang unggul,” ungkap Menko PMK.

Baca Juga  BaoBar Sajikan Perpaduan Unik Makanan Asia Modern dengan Bir

Dalam sambutannya, Pratikno mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi anak di empat lingkungan utama, yaitu keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital. Menko PMK juga menyoroti tingginya paparan anak terhadap penggunaan gawai serta pentingnya pengawasan orang tua dalam mendampingi aktivitas digital anak.

“Perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat mereka. Karena itu, kita harus memastikan hadirnya ruang yang aman dan nyaman bagi anak. Ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan orang tua, guru, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan agar setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa rasa takut terhadap kekerasan maupun perundungan. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama melindungi anak dari kekerasan dan perundungan demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas,” ujar Menko PMK.

Menteri PPPA Arifah Fauzi menyampaikan peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) pada masa MPLS merupakan wujud kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan bagi anak.

Baca Juga  Libur Nataru Tiba! Sejumlah Destinasi Wisata Ditinjau Kesiapannya Sambut Pelancong

“MPLS seharusnya menjadi pintu gerbang bagi setiap anak untuk merasakan kebahagiaan, keamanan, dan kenyamanan saat memasuki lingkungan belajar. Karena itu, melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak, kita memperkuat kolaborasi antara pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat agar setiap anak dapat tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal tanpa rasa takut terhadap kekerasan maupun perundungan,” ujar Menteri PPPA.

Dalam sambutannya, Menteri PPPA menyoroti masih tingginya angka kekerasan terhadap anak berdasarkan data SIMFONI PPA tahun 2025. Mayoritas korban merupakan anak perempuan, sementara sebagian besar kasus justru terjadi di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, seperti rumah dan satuan pendidikan. Padahal, kekerasan termasuk perundungan dan ancaman di ruang digital, berdampak besar terhadap kesehatan mental dan masa depan anak.

“Data menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak masih menjadi tantangan besar, bahkan banyak terjadi di lingkungan yang seharusnya paling aman bagi mereka. Karena itu, perlindungan anak tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan komitmen dan kolaborasi semua pihak untuk menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan ramah anak. Sebab anak-anak yang bahagia, terlindungi, dan mendapatkan haknya secara utuh hari ini adalah fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Menteri PPPA.

Baca Juga  Pemerintah Pastikan APBN 2026 Berjalan 'On Track'

Menteri PPPA mengatakan Pemerintah telah memperkuat perlindungan anak melalui berbagai regulasi, di antaranya PP TUNAS, Strategi Nasional Penghapusan Kekerasan terhadap Anak, Peta Jalan Perlindungan Anak di Ranah Daring, serta berbagai kebijakan di sektor pendidikan dan keagamaan. Menteri PPPA mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mewujudkan ruang yang aman dan nyaman bagi anak sebagai investasi menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menyampaikan MPLS Ramah menjadi momentum untuk membangun budaya sekolah yang tidak hanya aman secara fisik dan sosial, tetapi juga mampu membentuk karakter peserta didik. Sekolah diharapkan menjadi ruang perjumpaan (meeting point) sekaligus ruang pembauran (melting point) bagi seluruh anak Indonesia dalam keberagaman.

“Melalui MPLS Ramah dan kebijakan Sekolah Aman dan Nyaman, kami ingin menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman, sehat, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik. Sekolah harus menjadi tempat anak-anak bertemu, belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi terbaiknya sehingga mampu menjadi Generasi Indonesia Emas 2045 yang sehat, cerdas, dan berkarakter,” ujar Mendikdasmen.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru