Tabanan, warnaberita.com – Hampir seribu peserta dari lima kabupaten/kota di Bali berkumpul di hamparan persawahan Subak Serongga, Desa Pangkung Karung, Kecamatan Kerambitan, Minggu (13/9/2026). Mereka ambil bagian dalam Pangkung Karung Kite Festival III Tahun 2026 yang dibuka langsung Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M.
Festival layang-layang yang memasuki tahun ketiga penyelenggaraan ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan. Pemerintah Kabupaten Tabanan melihat kegiatan tersebut sebagai ruang untuk melestarikan permainan tradisional, memperkuat kebersamaan, sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Sebanyak 920 peserta dari Tabanan, Badung, Gianyar, Jembrana, dan Kota Denpasar mengikuti festival. Kehadiran peserta lintas daerah itu sekaligus menunjukkan bahwa Pangkung Karung Kite Festival mulai berkembang menjadi ruang pertemuan komunitas pecinta layang-layang di Bali.
Bupati Sanjaya memberikan apresiasi kepada panitia, tokoh masyarakat, serta para pemekas di Desa Dinas dan Desa Adat Pangkung Karung yang konsisten menggelar festival tersebut.
“Saya memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia, para tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang telah menggagas dan menyelenggarakan Pangkung Karung Kite Festival ini. Kehadiran peserta dari berbagai kabupaten dan kota menunjukkan bahwa kegiatan ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Ribuan masyarakat datang ke Desa Pangkung Karung, dan tentu ini menjadi kebanggaan bagi kita sebagai masyarakat Tabanan,” ujar Bupati Sanjaya.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Tabanan terus membuka ruang bagi komunitas dari berbagai daerah untuk berkegiatan di Tabanan. Ia bahkan mendorong Tabanan menjadi salah satu lokasi berkumpulnya berbagai komunitas, tidak hanya pecinta layang-layang.
“Kami ingin Tabanan menjadi salah satu titik berkumpul bagi berbagai komunitas, baik komunitas layang-layang, mancing, otomotif, maupun komunitas lainnya. Silakan datang dan berkegiatan di Tabanan. Pemerintah bersama masyarakat Tabanan tentu sangat terbuka dan menyambut kehadiran masyarakat dari berbagai daerah. Inilah bagian dari keramahan dan semangat kebersamaan yang kita miliki,” ungkapnya.
Bupati Sanjaya menilai kegiatan berbasis komunitas juga mampu memberikan dampak langsung terhadap perekonomian lokal. Masyarakat dan pelaku UMKM di sekitar lokasi mendapat peluang ekonomi dari meningkatnya kunjungan peserta maupun penonton.
“Kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga mampu menghidupkan perekonomian masyarakat, terutama UMKM di sekitar lokasi. Membuat sebuah layang-layang hingga dapat diterbangkan tinggi membutuhkan proses yang panjang, kreativitas, kerja sama, dan gotong royong. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita jaga,” jelasnya.
Ia berharap Pangkung Karung Kite Festival terus digelar setiap tahun dan berkembang semakin besar, bahkan mampu menarik komunitas pecinta layang-layang hingga tingkat dunia. Pemanfaatan hamparan persawahan sebagai lokasi festival juga dinilai menjadi kekuatan tersendiri sekaligus memperlihatkan potensi ruang terbuka di Tabanan.
Ketua Panitia Pangkung Karung Kite Festival III, I Wayan Arjawa, menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemkab Tabanan, khususnya Bupati Sanjaya. Ia mengatakan festival tersebut menjadi wadah pelestarian permainan tradisional, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan kreativitas dan sportivitas generasi muda.
Panitia menyediakan 17 kategori layangan yang dilombakan dengan penilaian objektif oleh dewan juri. Selain piagam penghargaan bagi para juara, panitia juga menyiapkan dua piala bergilir Desa Pangkung Karung, satu piala bagi pengirim peserta terbanyak, serta enam piala untuk masing-masing kategori dan penghargaan.
Kehadiran Ketua DPRD Kabupaten Tabanan beserta anggota, Sekretaris Daerah Kabupaten Tabanan, kepala perangkat daerah terkait, Camat Kerambitan bersama Forkopimcam, Perbekel Desa Pangkung Karung, Ketua Pelangi Tabanan, serta peserta festival turut melengkapi pembukaan kegiatan.
Melalui festival ini, Tabanan tidak hanya menjaga tradisi layang-layang tetap hidup, tetapi juga membangun ruang perjumpaan antar-komunitas sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.(*)
