Wednesday, April 22, 2026
HomeBALIBulelengBuleleng Perkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami di Enam Desa Pesisir

Buleleng Perkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami di Enam Desa Pesisir

Buleleng, warnaberita.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng terus menguatkan kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami dengan mengoptimalkan teknologi peringatan dini.

Salah satu perangkat utama yang digunakan adalah Warning Receiver System (WRS) yang sudah terpasang di kantor BPBD Buleleng. Selain itu, BPBD juga berencana memasang sirine tsunami portabel di enam desa pesisir yang tergolong rawan bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, menegaskan bahwa WRS merupakan perangkat milik BMKG yang memiliki peran vital dalam menyampaikan informasi gempa secara real-time. “Alat ini sangat penting karena memberikan informasi real time tentang gempa yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk koordinat, kekuatan, dan waktu kejadiannya. Jika gempa terjadi di wilayah Bali atau berpotensi tsunami, maka informasi akan diteruskan secara cepat oleh BPBD Provinsi Bali ke sistem sirine tsunami yang berada di Seririt,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (5/8/25).

Baca Juga  Relawan dan DLH Buleleng Jaga Kebersihan Lovina Festival 2025

Ariadi menjelaskan, WRS terhubung langsung ke server BMKG dan menjadi acuan aktivasi sirine tsunami di Provinsi Bali. “Ketika ada potensi tsunami, Pusdalops provinsi menekan tombol dan sirine di Seririt akan berbunyi secara otomatis. Ini sangat krusial dalam memberi waktu evakuasi kepada masyarakat,” tambahnya.

Untuk memperluas cakupan sistem peringatan dini, BPBD Buleleng akan menambah perangkat sirine tsunami portabel di enam desa, yakni Desa Banjar (Kecamatan Banjar), Desa Patas (Kecamatan Gerokgak), serta Desa Tangguwisia, Lokapaksa, Banjarasem, dan Kalisada (Kecamatan Seririt).

“Wilayah Seririt menjadi prioritas karena berdasarkan catatan sejarah, pernah terjadi gempa besar pada tahun 1976 yang menelan banyak korban. Selain itu, komunitas Tsunami Ready di Seririt juga sudah terbentuk dan diakui UNESCO, yang menunjukkan kesiapan masyarakatnya,” jelas Ariadi.

Baca Juga  Wujud Ngayah Gubernur Koster untuk Pelestarian Warisan Budaya Bali

Komunitas tersebut telah mendapatkan pelatihan dari BMKG, meliputi pemasangan rambu evakuasi, peta rawan bencana, hingga titik kumpul evakuasi. Sirine portabel yang akan dipasang juga mendukung pengoperasian melalui jaringan GSM, memiliki baterai cadangan, dan mampu menyampaikan pesan peringatan.

Menurut Ariadi, edukasi dan pelatihan rutin di masyarakat sangat penting agar saat bencana terjadi, tidak menimbulkan kepanikan. “Kepanikan justru yang sering memicu jatuhnya korban. Karena itu, kami terus mendorong edukasi, simulasi, dan pembentukan kader siaga di masyarakat,” pungkasnya.

Sebagai bagian dari penguatan mitigasi bencana, BPBD juga telah memasang sejumlah alat deteksi dan monitoring di wilayah rawan. Beberapa di antaranya adalah Seismometer yang merekam getaran gempa secara presisi, Intensitymeter untuk mengukur kekuatan getaran di lokasi tertentu secara real-time, Realshake yang memberi notifikasi dini berdasarkan getaran aktual, dan Tsunami Gauge untuk memantau perubahan permukaan laut.

Baca Juga  Monumen Tri Yuda Sakti Jadi Pusat Kendali Bencana Nataru di Buleleng

Seluruh sistem ini diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan mempercepat penyampaian informasi kebencanaan. Dengan teknologi deteksi yang lebih modern, risiko bencana dapat diminimalkan, dan keselamatan warga semakin terjamin.(*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru