Buleleng, warnaberita.com – Ribuan pasang mata terpukau saat pembukaan Buleleng Festival (Bulfest) 2025 berlangsung meriah pada Senin (18/8/25).
Sebanyak 150 penari cilik dari berbagai sanggar seni di Buleleng menampilkan Tari Magrumbungan secara massal di sepanjang Jalan Ngurah Rai. Dentuman gamelan yang rancak berpadu dengan gerakan lincah para penari membuat suasana pembukaan festival semakin semarak.
Penampilan kali ini menjadi momen spesial karena Tari Magrumbungan kembali hadir setelah enam tahun absen dari ajang bergengsi tersebut. Tarian ini mengangkat kisah Sampi Gerumbungan dari Desa Kaliasem, tradisi syukur petani atas hasil panen melimpah. Dalam tradisi itu, sapi dihias indah, diberi gerumbungan atau genta besar, serta gongseng di kaki untuk kemudian diarak dengan megah.
Tari Magrumbungan sendiri diciptakan oleh Bapak Ketut Artika bersama almarhum Bapak I Nyoman Durpa. Tarian ini menghadirkan gerakan penuh energi yang menggambarkan peran seorang pengatik (joki) dan sapinya. Langkah serempak, hentakan kaki kuat, hingga variasi gerakan khas membuat tarian ini bukan hanya pertunjukan, melainkan simbol kebanggaan budaya Buleleng.
Komang Pitriani, pembina dari Komunitas Kumara Prabawa, mengungkapkan bahwa meski waktu persiapan terbilang singkat, semangat anak-anak tetap membara.
“Latihan intensif baru kami lakukan sekitar dua minggu, masing-masing pembina menggembleng anak-anak di kelompoknya. Hasilnya luar biasa, mereka tampil penuh percaya diri,” ujarnya.
Bagi para penari, tampil massal di festival besar menjadi pengalaman berharga. Made Resika Dharma, salah satu penari, mengaku sempat gugup sebelum naik ke panggung.
“Sangat deg-degan, tapi tetap semangat dan berusaha menari dengan senyum,” ungkapnya.
Kemeriahan pembukaan semakin lengkap dengan kehadiran Wakil Gubernur Bali, Bapak I Nyoman Giri Prasta, yang secara resmi membuka Buleleng Festival 2025. Ia menyampaikan apresiasi terhadap upaya pelestarian seni budaya, terutama yang melibatkan generasi muda.
Dengan semarak Tari Magrumbungan massal, Buleleng Festival 2025 tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempertegas identitas budaya daerah, merangkul kreativitas seniman muda, sekaligus menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan kekayaan seni Bali Utara.(*)
