Thursday, June 25, 2026
spot_img
HomeBALIBadungDrama Gong “Tirta Usada Segara” Hidupkan Sejarah dan Kearifan Lokal Tengkulung di...

Drama Gong “Tirta Usada Segara” Hidupkan Sejarah dan Kearifan Lokal Tengkulung di PKB 2026

Denpasar, warnaberita.com – Denting gamelan dan dialog penuh makna menggema di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Bali, Rabu (24/6/2026). Sekaa Gong Gita Swastika dari Banjar Adat Tengkulung tampil memukau sebagai Duta Kabupaten Badung dalam Utsawa Drama Gong Tradisi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026.

Penampilan ini langsung menyita perhatian penonton. Bukan sekadar hiburan, pementasan tersebut menjadi bukti nyata upaya pelestarian seni Drama Gong yang kini menghadapi tantangan serius, terutama dalam hal regenerasi pemain di tengah arus modernisasi.

Kecamatan Kuta Selatan sendiri mendapat giliran mewakili Kabupaten Badung melalui sistem pergiliran enam kecamatan. Dukungan penuh pun diberikan sejak awal proses persiapan.

Ketua Listibiya Kuta Selatan, Dr. I Wayan Deddy Sumantra, S.Sn., M.Si., menegaskan seluruh unsur pementasan berasal dari wilayah setempat. Bahkan, sekitar 90 persen pemain merupakan warga Desa Adat Tengkulung.

Baca Juga  Workshop Ogoh-Ogoh Badung Dorong Kreativitas Generasi Muda dan Penguatan Filosofi Seni

Pelestarian Drama Gong Tradisi dinilai memiliki peran strategis. Selain sebagai hiburan, seni ini juga menjadi media edukasi budaya yang efektif bagi generasi muda. “Kesenian ini mampu melahirkan generasi seniman yang memiliki kemampuan berbahasa Bali yang baik sekaligus menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya lokal,” kata Deddy saat ditemui sebelum pementasan.

Dalam pementasan kali ini, lakon “Tirta Usada Segara” diangkat sebagai cerita utama. Kisah ini terinspirasi dari keberadaan Tirta Amerta di kawasan pesisir Desa Adat Pedungan Peluh yang dipercaya memiliki fungsi penting dalam upacara penyucian dan pengobatan tradisional.

Ketua Sekaa Gong Gita Swastika, Wayan Wiana Aditya Pratama, menyebut cerita ini juga erat kaitannya dengan sejarah spiritual Pura Dalam Tengkulung. “Cerita ini dikemas dalam bentuk Drama Gong agar dapat menjadi media pembelajaran bagi generasi muda mengenai asal-usul dan warisan budaya desa mereka,” ucapnya.

Baca Juga  Sang Nyoman Sedana Arta Perkuat Tata Kelola Lingkungan Lewat Rakor Forkopimda

Persiapan pementasan dilakukan selama kurang lebih empat bulan. Tantangan terbesar terletak pada penyesuaian jadwal latihan para anggota yang memiliki kesibukan berbeda, mulai dari bekerja hingga bersekolah. Namun, semangat kebersamaan mampu mengatasi berbagai kendala tersebut.

Secara alur, drama ini mengisahkan perjalanan Diah Manik Gegelang, putri Kerajaan DAA yang tersesat akibat diterbangkan angin kencang. Ia kemudian ditemukan oleh Bapa Dukuh di Padukuhan Taman Sari dan dirawat hingga datang waktu penjemputan sesuai sabda dari langit.

Di tempat jatuhnya topi Bapa Dukuh, dibangun Pura Taman Segara yang menjadi tempat suci penting. Sementara itu, Raja DAA jatuh sakit akibat kehilangan putrinya. Raden Bagus Panji dari Kerajaan Madra melakukan pencarian hingga akhirnya menemukan sang putri.

Baca Juga  Single Perdana Gita Safira “Rajin Pangkal Pandai” Gaungkan Pentingnya Pendidikan dan Disiplin Sejak Dini

Konflik memuncak saat muncul upaya perebutan kekuasaan oleh pihak lain yang hendak membunuh Raja DAA. Namun, rencana tersebut berhasil digagalkan. Raja akhirnya disembuhkan dengan Tirta Usada Segara, sementara para pelaku kejahatan diusir.

Kisah ditutup dengan pernikahan Diah Manik Gegelang dan Raden Bagus Panji yang kemudian dinobatkan sebagai pemimpin kerajaan. Pementasan ini pun sukses menyampaikan pesan moral tentang kesetiaan, pengabdian, dan kekuatan spiritual warisan leluhur.(*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru