Lombok, warnaberita.com – Langkah konkret menjaga pesisir kembali ditegaskan. InJourney Group menanam 15.000 mangrove di KEK Mandalika, menjadikan Hari Bumi bukan sekadar seremoni, tetapi aksi nyata untuk masa depan lingkungan dan pariwisata.
Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney bersama anak usahanya InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) memperingati Hari Bumi (22/4/26) dengan melakukan penanaman 15.000 bibit mangrove di KEK Mandalika.
Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui pilar InJourney Green. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi lanjutan dari program serupa yang telah dilaksanakan sebelumnya, sebagai bentuk konsistensi menjaga ekosistem pesisir dan mendorong pariwisata berkelanjutan.
Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman menegaskan bahwa InJourney Green merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan InJourney Group dalam mendorong praktik pariwisata yang bertanggung jawab di seluruh member khususnya pada pilar lingkungan.
“InJourney Green kami dorong sebagai wadah kolaboratif yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga memperkuat dampak sosial dan ekonomi secara berkelanjutan. Melalui pendekatan berbasis kajian dan kolaborasi lintas stakeholder, kami ingin memastikan setiap inisiatif yang dijalankan memberikan kontribusi nyata terhadap upaya mitigasi perubahan iklim dan pelestarian ekosistem,” ujarnya.
Senada dengan Herdy Harman, Direktur Komersial dan Marketing ITDC, Febrina Mediana, menyampaikan bahwa penanaman mangrove ini adalah bagian dari upaya strategis perusahaan dalam memastikan pengembangan KEK Mandalika berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan.
“InJourney Green 2026 bukan sekadar bagian dari flagship program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) InJourney Group, tetapi juga sebagai langkah konkret mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), serta komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Melalui inisiatif ini, kami ingin memastikan bahwa pengembangan kawasan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan keberlanjutan ekosistem pesisir,” kata Febrina.
Pelaksanaan program ini didasarkan pada kajian teknis Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB). Hasil kajian menunjukkan ekosistem mangrove di KEK Mandalika didominasi fase pancang dengan tinggi 3–5 meter dan substrat campuran lumpur serta pasir padat yang dipengaruhi pasang surut.
Berdasarkan hasil tersebut, rehabilitasi dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan jenis, lokasi, dan metode penanaman. Kegiatan difokuskan di Area 22 seluas ±1.500 meter persegi serta Area 23 sebagai lanjutan, dengan total cakupan mencapai ±5,2 hektare. Sebanyak 15.000 bibit ditanam, terdiri dari Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Rhizophora stylosa.
Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, akademisi, aparat TNI/Polri, komunitas lingkungan, hingga masyarakat lokal. Seluruh proses berada di bawah supervisi teknis PKSPL IPB serta dukungan Universitas Mataram dalam penyediaan bibit.
“Ke depan, program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga fungsi ekologis kawasan pesisir, dan memperkuat posisi KEK Mandalika sebagai destinasi pariwisata yang tidak hanya unggul secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tutup Febrina.(*)
