Badung, warnaberita.com – Semangat gotong royong krama Desa Adat Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, kembali terlihat dalam pelaksanaan Karya Yadnya Massal yang digelar Selasa (1/9/2026). Rangkaian upacara keagamaan ini tidak hanya menjadi bentuk bhakti kepada leluhur, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga tradisi adat dan agama di tengah derasnya modernisasi.
Karya Yadnya Massal yang dipusatkan di Jaba Sisi Pura Dalem Brerong, Desa Adat Mengwitani, tersebut meliputi Karya Sawa, Atma Wedana, Mapetik, Menek Kelih, Metatah, hingga Sanan Empeg.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa hadir langsung sebagai upasaksi sekaligus mengikuti prosesi ngias sangga. Kehadiran Bupati menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Badung terhadap pelaksanaan kewajiban yadnya masyarakat.
Menurutnya, pemerintah harus hadir di tengah masyarakat, termasuk dalam kegiatan adat dan keagamaan. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi krama sekaligus menjaga keberlangsungan seni, adat, dan budaya Bali.
Dalam sambutannya, Bupati Adi Arnawa menyebut pelaksanaan karya sebagai wujud nyata bakti krama kepada leluhur.
“Semoga dengan pelaksanaan karya ini, leluhur kita yang sudah meninggal mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan yang Maha Esa/Ida Hyang Widhi Wasa,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi semangat kebersamaan yang ditunjukkan krama Desa Adat Mengwitani. Menurutnya, gotong royong menjadi kekuatan penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat.
“Astungkara dengan karya ini juga meningkatkan semangat persatuan dan gotong royong antar-krama serta memberikan keselamatan dan kerahayuan untuk Desa Adat Mengwitani. Semoga pelaksanaan karya ini berjalan lancar dan sukses,” harapnya.
Sementara itu, Bendesa Adat Mengwitani I Putu Wendra menjelaskan, rangkaian Karya Yadnya Massal telah dimulai sejak 21 Agustus 2026. Puncak karya dijadwalkan berlangsung pada 3 September 2026.
Ia mengatakan, berdasarkan awig-awig atau aturan adat Desa Mengwitani, karya massal tersebut dilaksanakan secara berkala setiap lima tahun sekali. Dalam siklus yang lebih besar, pelaksanaan karya berlangsung setiap 30 tahun sekali.
Putu Wendra juga menyampaikan apresiasi atas sinergi krama desa dengan Pemerintah Kabupaten Badung yang turut mendukung kelancaran pelaksanaan upacara.
Untuk Karya Sawa dan Atma Wedana, rangkaian upacara diawali dengan Pengabenan sebanyak dua sawa, Penglungahan 59 sawa, serta Penyekahan 102 sawa.
Sementara itu, rangkaian Manusia Yadnya diikuti 57 peserta Mesangih atau metatah, 15 peserta Menek Kelih, 76 peserta Mepetik, serta dua peserta prosesi Sanan Empeg.
“Perlu saya jelaskan, prosesi Sanan Empeg itu diperuntukkan kepada seseorang yang ditinggal meninggal oleh kakak dan adik,” jelasnya.
Pelaksanaan Karya Yadnya Massal ini turut dihadiri jajaran Forkopimda Badung, Anggota DPRD Kabupaten Badung I Made Rai Wirata, Camat Mengwi I Nyoman Suhartana beserta unsur Tripika Kecamatan, Bendesa Madya Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Badung IB. Gede Widnyana, MDA Kecamatan Mengwi, Perbekel Desa Mengwitani I Nyoman Suardana beserta jajaran perangkat desa, serta tokoh masyarakat setempat.
Karya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi adat dan agama tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Melalui pelaksanaan secara bersama-sama, krama Desa Adat Mengwitani tidak hanya menjalankan kewajiban yadnya, tetapi juga memperkuat persatuan dan warisan budaya antargenerasi.(*)
