Badung, Warnaberita.com-Ini berita menggembirakan bagi upaya pelestarian lontar kuno. Kegiatan konservasi, identifikasi, dan digitalisasi lontar serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII berlanjut ke Kabupaten Badung.
Di Gria Suksuk, Banjar Lambing, Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Selasa (24/2/2026), tim Penyuluh Bahasa Bali menemukan saduran Lontar Sutasoma tahun 1855 yang menjadi salah satu temuan penting dalam kegiatan tersebut.
Lontar milik Ida Pedanda Istri Rai dan Ida Pedanda Istri Oka itu merupakan warisan leluhur yang selama ini tersimpan rapi di lemari kaca. Namun sebagian besar naskah tersebut belum pernah dibaca secara menyeluruh, kecuali beberapa lontar yang digunakan sebagai referensi terbatas.
Konservasi dilakukan oleh Penata Layanan Operasional (Penyuluh Bahasa Bali) Dinas Kebudayaan Provinsi Bali sebagai langkah pelestarian warisan budaya agar tetap dapat dinikmati generasi mendatang. Narahubung Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Badung, I Nyoman Sugita, S.Pd., mengungkapkan, dari sekitar 80 lontar yang ada, sebanyak 65 lontar telah menjalani proses konservasi awal.
Kegiatan ini melibatkan 58 penyuluh Bahasa Bali serta bersinergi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, dan Dinas Kearsipan Kabupaten Badung.
Meski identifikasi rinci belum sepenuhnya dilakukan, tim menemukan sejumlah jenis lontar seperti Usada, Babad, Usana, dan Rajah. Bahkan ditemukan pula lontar yang ditulis oleh Ida Pedanda Wayahan Mambal sekitar tahun Saka 1870.
Temuan paling menarik adalah saduran Lontar Sutasoma tahun 1855 yang disurat oleh Ida Bagus Rai dari Banjar Kraman, Abiansemal. Lontar tersebut ditulis tebal dengan aksara kawi dan Bali kuno. Namun, karena belum melalui proses identifikasi mendalam, isi naskahnya belum dapat dipastikan. Beberapa lontar lain yang mengalami kerusakan parah diperkirakan sulit untuk dibaca kembali.
Sugita menegaskan, lontar bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan sumber pengetahuan yang memuat pedoman kehidupan dalam berbagai bidang. Karena itu, ia mengajak para keturunan pemilik lontar untuk terus merawat dan menjaga warisan budaya tersebut.
Sementara itu, Ida Pedanda Istri Rai menyampaikan apresiasi atas program perlindungan lontar yang digagas Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Ia berharap kegiatan konservasi dan identifikasi ini terus berlanjut guna menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan warisan budaya adiluhung Bali. (*)

