Saturday, May 9, 2026
HomeBALIBulelengDisbud Buleleng Genjot Sosialisasi Warisan Budaya Tak Benda

Disbud Buleleng Genjot Sosialisasi Warisan Budaya Tak Benda

Buleleng, warnaberita.com – Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng terus mempertegas komitmennya dalam menjaga kelestarian budaya lokal melalui penyelenggaraan sosialisasi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) bertajuk “Melestarikan Tradisi untuk Generasi Masa Depan”.

Kegiatan ini menjadi langkah nyata Pemkab Buleleng dalam memperkuat eksistensi budaya daerah di tengah kuatnya arus globalisasi. Sosialisasi tersebut belum lama ini digelar di Wantilan Sasana Budaya, dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, budayawan, dan pelajar.

Saat dikonfirmasi pada Jumat (11/7), Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng melalui Kepala Bidang Sejarah dan Cagar Budaya, Nyoman Widarma, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya sebatas upaya perlindungan, tetapi juga mencakup aspek pengembangan dan pemanfaatan secara berkelanjutan.

Baca Juga  Pemkab Buleleng Dorong Perlindungan Kopi Robusta Lemukih

“Pelestarian budaya bukan sekadar tugas perlindungan. Ini adalah kerja lintas sektor yang mencakup pengembangan, pemanfaatan, pembinaan, hingga penghargaan terhadap budaya itu sendiri. Hal ini telah diamanatkan dalam UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, serta UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Disbud Buleleng, saat ini tercatat sebanyak 476 Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di wilayah Buleleng. Dari jumlah tersebut, dua di antaranya Masjid Jamik dan Rumah Rai Srimben telah ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya tingkat kabupaten.

Tak hanya itu, sebanyak 16 Warisan Budaya Tak Benda juga telah diakui secara resmi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Di antara warisan tersebut terdapat Tari Teruna Jaya, tradisi Nyakan Diwang, dan kesenian Janger Kolok.

Baca Juga  Buleleng Kembali Gelar Lomba Gerak Jalan HUT RI

WBTB sendiri mencakup ragam ekspresi budaya yang diwariskan lintas generasi. Hal ini meliputi tradisi lisan, praktik adat, seni pertunjukan, pengetahuan tradisional, hingga permainan rakyat. Widarma menegaskan nilai strategis dari pengelolaan WBTB secara optimal.

“WBTB merupakan identitas budaya yang hidup. Jika dikelola dengan baik, ia bukan hanya memperkuat kohesi sosial dan kebanggaan komunitas, tapi juga membuka peluang ekonomi melalui pariwisata budaya,” ungkapnya.

Namun, upaya pelestarian tersebut tidak lepas dari tantangan, terutama di era modern. Ia menjelaskan bahwa derasnya arus budaya asing, pergeseran gaya hidup, minimnya kurikulum budaya di pendidikan formal, serta menurunnya minat generasi muda terhadap tradisi lokal menjadi hambatan yang harus segera diatasi.

Baca Juga  Pemuda Buleleng Ekspor Gamelan Rindik Bambu ke Mancanegara

Melalui kegiatan sosialisasi ini, Disbud Buleleng berharap terbangun sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan dalam mendata, menjaga, serta mengembangkan potensi budaya daerah. Sinergi tersebut diyakini mampu memperkuat pondasi budaya lokal sekaligus menjadi warisan yang membanggakan bagi generasi penerus.(*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular

Komentar Terbaru