Thursday, September 3, 2026
HomeBALI​Memaknai Profesi Fotografer Lebih dari Sekadar "Passion"

Darwis Triadi Pameran Tunggal di Sudakara ArtSpace

​Memaknai Profesi Fotografer Lebih dari Sekadar “Passion”

​Denpasar, warnaberita.com — Sebuah pameran foto bertajuk “A Portrait of Human Art” diselenggarakan di Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort Sanur mulai Kamis (3/9/2026).

Sang fotografer, Darwis Triadi juga berkesempatan memimpin workshop fotografi eksekutif. Ini menjadi momen bagi pecinta fotografi untuk belajar langsung dari sang maestro.

I Wayan Suwastana, Commercial Director Sudamala Resorts mengatakan seni bukan hanya sesuatu untuk dinikmati tetapi juga memiliki kekuatan untuk menginspirasi, menghubungkan, dan mengajak kita melihat dari sudut pandang berbeda.

“Kami merasa terhormat dapat menyambut Darwis Triadi di Sudakara ArtSpace dan menghadirkan visi serta karya beliau kepada komunitas kami,” ujarnya.

Bagi Darwis, fotografi bukan sekadar urusan memegang kamera dan menekan tombol shutter. Profesi ini telah melampaui batasan pekerjaan atau sekadar hobi.

Baca Juga  Gubernur Koster: Aktualisasi Perjuangan Bapak Proklamator RI

​Mengenang perjalanan kariernya yang dimulai puluhan tahun lalu, Darwis mengungkapkan bahwa keputusan besarnya berpindah jalur dari seorang pilot menjadi fotografer dilandasi oleh niat yang tulus.

​”Profesi itu bukan hanya tentang passion. Saat saya memutuskan keluar dari dunia penerbangan dan menjadi fotografer sekitar 48 tahun lalu, saya berniat menjalankan bidang ini dengan segala keikhlasan dan ketulusan. Paling tidak, ada manfaatnya,” ungkap Darwis.

​Seiring berjalannya waktu dan proses belajar yang tiada henti, pandangan Darwis terhadap dunia fotografi kian mendalam. Baginya, materi bukan lagi fokus utama karena rezeki setiap orang sudah ada yang mengatur. Fotografi telah bertransformasi dari sekadar teknis menjadi sebuah spirit hidup.

Baca Juga  Ini 10 Desa di Bali yang Jadi Motor Penggerak Pilah Sampah dari Sumber

​Spirit inilah yang membuatnya tetap berenergi meski telah menggeluti dunia fotografi selama nyaris setengah abad. Darwis berseloroh bahwa energi ini sering kali membuat murid-muridnya yang berusia jauh lebih muda kewalahan saat sesi hunting foto bersama.

​”Kalau dihitung, saya belajar fotografi mungkin sudah hampir 50 tahun. Tapi kalau saya sudah masuk ke dunia fotografi, enggak ada capeknya. Spirit itu yang terus hidup,” jelasnya.

​Dalam pameran yang berfokus pada figur manusia tersebut, Darwis menekankan bahwa hubungan antarmanusia adalah inti dari karya-karyanya. Menjadi fotografer portrait menuntutnya untuk tidak hanya menguasai teknik pencahayaan atau sudut pengambilan gambar, tetapi juga memahami psikologi manusia dan menjalin komunikasi yang hangat.

Baca Juga  Pegang Teguh Komitmen Jaga Bali dan Penuh Toleransi

​Bagi Darwis, kemampuan berinteraksi dan membangun persahabatan—bahkan dengan mereka yang tidak ada hubungannya dengan dunia bisnis—menjadi fondasi penting yang menopang profesinya. Kesempatan memotret berbagai tokoh hingga menjalin relasi erat dipandangnya sebagai bonus dan berkah dari keikhlasan berkarya.

​Darwis menitipkan pesan mendalam bagi para junior, murid, serta pecinta fotografi. Ia mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dan spirit dalam bekerja agar tidak mudah merasa lelah atau jenuh.

​Ketika pekerjaan dijalankan dengan keikhlasan dan hati, batas antara “bekerja” dan “menikmati hidup” akan melebur. Dimensi pekerjaan menjadi jauh lebih luas, bermakna, dan mampu terus menunjang setiap aktivitas yang dilakukan. (*)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Paling Popular