Jakarta, warnaberita.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memegang peranan krusial dalam memberikan peringatan dini cuaca ekstrem di Indonesia.
Data yang terkumpul dianalisis oleh para ahli meteorologi untuk mengidentifikasi potensi terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Dalam rilis yang dibagikan Biro Humas Kementerian Komdigi, Plt. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan, dalam memberikan informasi peringatan dini cuaca ekstrem, BMKG bekerja selama 24 jam non-stop.
Baca Juga: Presiden Prabowo Melayat ke Katedral Jakarta, Sebut Kenal Baik dengan Mendiang Monsiyur Turang
Setiap informasi yang dihadirkan melewati serangkaian proses ilmiah dan dikerjakan dengan teliti untuk mencapai keakuratan data maksimal.
“BMKG secara terus menerus memantau kondisi atmosfer laut dan daratan menggunakan berbagai peralatan canggih seperti radar cuaca, satelit, dan stasiun pengamatan,” kata Dwikorita dalam peringatan World Meteorological Day atau Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-75 di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Adapun tema Internasional HMD ke-75 adalah Closing The Early Warning Gap Together dan diperingati pada tanggal 23 Maret setiap tahunnya.
Baca Juga: Pariwisata Bisa Jadi Senjata Lawan Tarif Resiprokal Trump, Menpar Beber 3 Strateginya
Tema tersebut, menurut Dwikorita harus direfleksikan dengan sungguh-sungguh untuk seluruh umat manusia di dunia, termasuk Indonesia, sebagai salah satu negeri rawan bencana di sepanjang tahun.
BMKG mencatat, data fenomena cuaca ekstrem di Indonesia per 1 Januari-17 Maret 2025 jumlahnya mencapai 1.732 kejadian.
Dengan rincian, puting beliung 46, angin kencang 403, hujan lebat 1.216, petir 56, dan hujan es 11 kejadian.
Baca Juga: Simak! Ini 5 Event Seru di April 2025
Di sisi lain, akibat cuaca ekstrem tersebut jumlah korban jiwa/luka mencapai 122 orang dan ribuan orang lainnya terdampak.
Pada awal Maret 2025, masyarakat di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Banten (Jabodetabek) baru saja mengalami bencana kebanjiran akibat hujan lebat.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak lebih dari 37 ribu kepala keluarga terdampak banjir di Jabodetabek.
Baca Juga: Tim SAR Gabungan Temukan Spearfishing yang Hilang di Pantai Labuan Sait
Hasil analisis BMKG, potensi cuaca ekstrem di wilayah Indonesia terjadi akibat dinamika atmosfer yang terus terjadi dan munculnya bibit siklon di dekat wilayah Indonesia.
Oleh karenanya, curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi dan perlu diwaspadai terutama di wilayah yang rentan terdampak cuaca ekstrem.
Berdasarkan data-data tersebut, Dwikorita mengajak seluruh pihak untuk memahami dan merespons peringatan dini cuaca ekstrem dengan melakukan aksi.
Baca Juga: Bukan sebagai Pengganti, Ini Prinsip Utama Sekolah Rakyat
"Sebagaimana tema HMD ke-75, sudah sepatutnya gap yang terjadi selama ini harus diatasi dengan sebaik mungkin demi menjamin keselamatan masyarakat luas," katanya.
Sebagai mata rantai bencana di Indonesia, Dwikorita menyatakan BMKG tidak bisa bertindak sendirian dan membutuhkan bantuan dari berbagai macam pihak.
Adapun mata rantai kebencanaan di Indonesia seyogianya dibagi menjadi tiga tahap yaitu BMKG di hulu sebagai pemberi informasi peringatan dini, Pemerintah Daerah, BNPB, Badan SAR, media massa, TNI, dan Polri sebagai interface, dan masyarakat di hilir.
"Kesinambungan inilah yang harus berjalan tanpa terkecuali dan menutup gap mata rantai informasi peringatan dini bencana. Jika alur komunikasi ini berjalan, kami meyakini informasi peringatan dini cuaca ekstrem maupun bencana lainnya akan dapat kita mitigasi bersama. Harapannya hanya satu yaitu keselamatan masyarakat Indonesia. Jangan sampai ada lagi masyarakat yang terdampak dan harus kehilangan hal yang berharga,” pungkasnya. (*)